Music

Kamis, 01 November 2012

Dari Sebuah Diary Hati


               “Tak Kan Pernah Ada” masih mengalun dari MP3-nya Andre. Mulutnya ikut komat-kamit mengikuti irama lagunya Geisha. Hmm, kelihatannya Andre begitu menjiwainya. Kenapa nih anak jadi termehak-mehek begini ya? Memang ada yang lain dalam diri Andre. Setelah setahun persahabatannya dengan Rere berjalan. Susah senang dilaluinya bersama. Rere memang sahabat yang baik dan manis. Mang begitu kok kenyataannya. Bukannya Andre berlebihan dalam menilainya. Sahabat yang di saat duka selalu menghibur dan di saat suka selalu hadir tuk berbagi tawa. Rere pernah bilang kalo semua saran Andre selalu diturutin dan begitupun sebaliknya. Pokoknya di mana ada Andre di situ ada Rere. Begitulah hampir setiap ada kesempatan mereka selalu pergi bersama-sama. Gak ada pikiran yang “aneh”. Gak ada perasaan apa-apa termasuk cinta!.

               Tapi kenapa Rere sampai saat ini belum juga punya cowok ? Padahal kalo dipikir-pikir Rere gak sulit untuk mendapatkan cowok. Mang sih Rere adalah tipe cewek yang sulit jatuh cinta. Gak sembarangan Rere menilai seorang cowok. Ya memang, inilah yang membuat Andre takut. Takut perasaannya hanya akan menjadi permainan waktu semata. Waktu yang entah sampai kapan akan membuat Andre terombang-ambing oleh cinta. Apakah ini cinta? Ya, ini adalah cinta. It must have been love kata Roxette. Ah, Andre terus memendam perasaannya. Sampai-sampai suatu ketika Andre dikecam oleh perasaan cemburu. Perasaan yang dulu gak pernah ada kini muncul. Cemburu saat Rere menceritakan kalo ada cowok yang naksir padanya. Apakah cemburu pertanda cinta? Kata orang cemburu tidak mencerminkan rasa cinta tapi mencerminkan kegelisahan. Aduh, Andre makin ketar-ketir aja dibuatnya. Andre benar-benar gelisah. Lama-lama tersiksa juga batinnya. Ada keinginan yang harus diutarakan. Tentang masalah perasaan Andre yang gak karuan tentang Rere. Cuma gak ada keberanian. Andre takut kalo Rere membencinya. Ini gak boleh terjadi.

               Kemudian akhirnya Andre berusaha untuk melupakannya tapi gak bisa, malah rasa sayang yang semakin membara. Apakah salah kalo Andre ingin menjalin hubungan yang lebih hangat bukan hanya sebagai seorang sahabat? Hmm, Andre harus berani. Harus berani ambil segala resikonya.

               “Rere, aku mencintaimu” kata Andre akhirnya setelah sekian lama dipendamnya. “Aku akan serius ma kamu dan mau menyayangimu seutuhnya”.

               Ia pandangi wajah Rere. Gak ada amarah di wajahnya yang ada hanya tangis. Ups, Rere menangis. Andre makin bertanya-tanya. Baru kali ini Andre melihat Rere menangis.

               “Kenapa Re? Apa kata-kata ku nyakitin perasaan kamu?”

               Rere menggeleng. Sambil masih terisak ia coba menjelaskan ke Andre. Andre siap mendengarkan jawaban Rere. Apapun itu meskipun kata “tidak” sekalipun. Dan benar juga, kata tidak yang terlontar dari mulutnya. Ya, Andre harus menerimanya. Sepeti kata Eric Segal dalam bukunya, “Cinta berarti kamu takkan sekali saja melafalkan kata sesal”. Rasanya dada terasa mau jebol, gerimis serasa hujan badai. Sepinya malam itu terasa lebih sunyi seolah hanya mereka berdua saja di alam ini. Tak ada suara hewan atau serangga yang meramaikan bumi.

               “Maafin aku ya, Ndre?” tangan Rere menggenggam jemari Andre. Andre terdiam. “Kamu pasti kecewa ma jawabanku, ya? Tapi itu bukan berarti aku gak ada ‘rasa’ ma kamu. Aku hanya takut perasaan ini hanya ilusi aja”.

               “Re, Jika cinta ini beban biarkan aku menghilang. Jika cinta ini kesalahan biarkan aku memohon maaf. Jika cinta ini hutang biarkan aku melunasinya. Tapi jika cinta ini suatu anugerah maka biarkanlah aku mencintai dan menyayangimu sampai nafas terakhirku” Andre tetap gak yakin akan perasaannya. Andre merasa Rere akan meninggalkannya selamanya. Kemudian dipeluknya Rere erat-erat. Dibelainya rambutnya dengan penuh kasih sayang.

               “Aku gak mau kehilangan sahabat yang begitu baik” kata Rere masih dalam pelukan Andre. “Biarlah hubungan kita tetap terjalin bebas tanpa terbatas ruang dan waktu. Lagipula perjalanan cinta kita nantinya bakal abadi, atau malah putus di tengah jalan? Persahabatan bisa jadi awal percintaan tapi akhir dari suatu percintaan kadang malah menjadi permusuhan. Dan aku gak mau itu terjadi pada kita, Ndre”

               Andre mulai merenungi kata-kata Rere. Dilepaskannya pelukannya kemudian dipandanginya wajah Rere dalam-dalam. Ternyata Andre masih bisa menikmati senyum manis Rere. Masih bisa merasakan sejuknya tatapan Rere. Ia gak mau kehilangan semuanya itu.

               “Aku rela menjadi lilin walau sinarnya redup tapi gak habis dimakan api bisa memberi cahaya dan menerangi hatimu” kata Andre sambil menyeka air mata di pipi Rere.

               “Iya, Ndre. Soalnya hati hanya dapat mencintai sekejap. Kaki cuma bisa melangkah jauh dan lelah. Busana tak selamanya indah dalam tubuh. Tapi memiliki sahabat sepertimu adalah keabadian yang tak mungkin kulupakan” begitu pinta Rere disambut senyum Andre. Mereka saling berpelukan lagi. Tanpa beban tanpa terbatas ruang dan waktu. Hmm… apa bisa Andre menyimpan rapat-rapat perasaannya berlama-lama ? Only time will tell…

*****

Semua Tentang kita

Namaku natasya, aku pernah mencintai seseorang dengan tulus. Tapi, semua ketulusan cintaku padanya berakhir sia-sia.
“Natasya, jangan sedih terus dong. Senyuum.” kata sahabatku dewi sambil mencari tisu di meja rias kamarku
“gue gak bisa dew, gue ga terima dia ninggalin gue, pergi gitu aja tanpa pamit.”
Arya adalah seorang cowok yang sangat aku sayangi, dia pergi meninggalkanku tanpa alasan. Akupun baru tau kepergiannya setelah sehari dia pergi. Dia juga tak pernah mengabariku kenapa ia pergi. Yang ku tau, Arya harus meninggalkan sekolah lamanya bersamaku karna dia di tuntut kedua orang tuanya untuk tinggal di pesantren , tepatnya di daerah lampung. Akupun terpukul mendengarnya.
“sya, lo gak bisa terus-terusan mikirin arya kaya gini. Dia itu gamau bilang kepergiannya karna dia gamau liat lo sedih. Coba kalo dia tau lo sedih kaya gini. Gimana sya.”
“tapi gue kecewa banget wi, lo ga ngerti perasaan gue.”
Sehari sebelum arya pergi, teman-teman sekelasku sebenarnya sudah tau akan kabar bahwa arya akan pindah dari sekolah. Tapi arya melarang mereka semua untuk memberitahuku dan merahasiakan semuanya. Ini juga karena arya gak ingin buat aku bersedih. Tapi justru malah sebaliknya .

***

Seminggupun berlalu, aku masih belum bisa menerima semua ini. Disekolah rasanya sepi tak ada arya di sisiku yang biasanya setiap hari menyapaku, tertawa bersama. Arya juga tak pernah mengabariku dia menghilang begitu saja. Sampai sekarang aku belum bisa memaafkannya sebelum aku tau alasannya mengapa dia tak memberitahuku tentang kepergian dan kepindahannya ke lampung. Aku mencoba melupakannya tapi aku tak bisa, perasaan ini menyiksaku. Semakin aku mencoba melupakannya, semakin aku tak bisa menghapus kenangan Arya dari hatiku.
“sya, maafin gue ya gue gak bilang sama lo . sebenernya gue udah tau Arya mau pindah dari sekolah, tapi Arya ngelarang gue buat bilang sama lo, katanya dia gak mau buat lo sedih. Lo pasti bisa dapetin yang lebih dari dia. Itu pesan arya buat lo.” Kata eza sahabatnya arya.
Saat eza bilang semua itu kepadaku entah mengapa, hatiku gak bisa menerimanya. Aku menyayangi arya, hanya arya yang selalu ada di hatiku, dan dia yang terbaik untukku. Itu menurutku.
“lo jahat za, kenapa lo gak bilang sama gue dan harusnya lo tuh ngerti.”
“iya, maafin gue sya. Gue salah, tapi mau gimana lagi arya udah pergi dan asal lo tau sya. Dia sayang banget sama lo. Dia sebenernya gamau pindah, tapi karna desakan orang tuanya dia pindah ke pesantren.”
“ gue kecewa za sama dia. Kenapa dia gak bilang dari awal?”kataku lemas
Aku meninggalkan eza yang masih diam membisu diambang pintu kelasku. Aku gak mau mendengar semuanya lagi. Aku udah cukup kecewa dengan semua ini. andaikan waktu bisa berhenti berputar untuk saat ini, aku ingin kembali dan melihat arya untuk terakhir kali.
***

Pagi hari di kelas,
Seiring berjalannya waktu meskipun arya tak pernah mengabariku, dan mungkin dia sudah lupa denganku. Yaa, begitupun aku masih terus mencoba melupakannya. Hari-demi hari kujalani semuanya seperti normal dulu sebelum arya pindah dari sekolah ini. Aku hanya bisa mencoba untuk ikhlas dengan yang ku jalani sekarang. Andaikan ini semua mimpi, aku tak mau ini semua akan terjadi. Tetapi apa daya semuanya bukan mimpi, ini nyata.
“sya...” panggil seseorang dari tempat duduk belakang dan ternyata itu eza , dia berjalan menghampiriku
“apaan za?’’ kataku
“sya, kemaren arya chat gue nanyain lo.”
“terus?”
“kok terus?”
“iyaa, terus kenapa? Apa urusannya sama gue?”
“adalah ”
“apaan?” tanyaku sinis
“dia masi nungguin lo.”
“oh.” Jawabku singkat
“dih ngeselin nih anak, emang lo gamau tau kabarnya dia?”
“ah gatau gue, gue bingung sama dia , dia bilang sayang sama gue tapi apaan ninggalin gue gitu aja dan udah seminggu lebih gue gatau kabarnya.”
“yaa lo tanya lah kabarnya gimana?”
“ngapain ah za, gue cewek gengsi kali nanya ke cowo duluan.” Kataku agak jengkel
“gue bingung ama lo berdua, lo sama arya sama-sama sayang, tapi gak ada yang mau mulai duluan. Gimana kalian mau jadian kalo sama-sama gengsi. Cinta, tapi munafik. ”
“harusnya dialah, minta maaf enggak , kabarin gue juga enggak. Kalo gue disuruh milih untuk kenal sama dia atau gak, gue akan lebih milih enggak dari pada gue harus sakit hati kaya gini akhirnya...gue malah kecewa banget.”
“yaaa, kemaren dia nanyain kabar lo, ya gue jawab lo sedih banget dia pindah.”
“lo jujur amat si za, aaaah tau deh.”
***

Hari terus berganti, meninggalkan semua kisah yang ada begitupun kisah ku dengan arya , aku bertekat untuk melupakannya. Aku udah cukup kecewa dengan semua ini. Setiap kali aku berdoa, mendoakannya untuk kembali bersama ku lagi seperti dulu tapi itu semua tak mungkin. Aku memang mencintai arya, tetapi tak pernah arya jujur akan rasa sayang dan cintanya kepadaku, selalu eza yang bilang kepadaku setiap kali arya curhat kepadanya. Aku bingung dengan semua ini, mencintai seseorang tanpa sebuah kepastian yang pasti.
Tuhan..... jika memang dia yang terbaik untukku, jagalah dia disana tuhan...
Jagalah hatinya untukku, dan jagalah hatiku untuknya...
Aku disini hanya bisa mendoakannya, melihat nya dari kejauhan...
Ini berat untuk ku jalani Tuhan... jauh dari seseorang yang aku sayangi.....
Aku menyayangi dan mencintainya... tabahkan hatiku Tuhan...
Tuhan .. hanya satu pintaku, jagalah iya saat aku jauh dari sisinya.... :’)
Setiap malam setiap ada kesempatan aku berdoa dan menangis, akankah cintaku padanya akan kembali seperti dahulu menjalani hari-hari dengan penuh canda maupun tawa. Cinta ini membunuhku...kau adalah mimpi takkan pernah ku gapai.
***

Sebentar lagi liburan semester tiba, 6 bulan sudah berlalu. Sebenarnya momen-momen itulah yang selama ini ku tunggu. Karna liburan sekolah Arya pasti pulang ke Jakarta dan ada kemungkinan kita akan bertemu lagi. Tetapi , mendengar kabar kalo Arya pasti akan pulang ke Jakarta hatiku biasa saja. Tidak ada getaran-getaran seperti dulu saat aku bersamanya, mungkin karena selama 6 bulan ini aku sudah terbiasa tanpanya, yaa meskipun awalannya aku sangat terpukul dan kecewa juga sedih. Tapi sekarang aku sudah mempunyai seseorang yang bisa menggantikan hati Arya di hatiku yaitu Aka sudah 6 bulan juga aku mengenalnya. Aka datang di kehidupanku ketika hatiku sedang hampa dan kosong tanpa arah. Dia menyembuhkan luka di hatiku, awalnya aku memang tak bisa melupakan Arya karna bagaimanapun juga Arya akan selalu tinggal di hatiku. Saat kepergian Arya, Aka lah yang selalu menemani hari sepiku selama 6 bulan aku mengenal Aka, bagiku dia adalah seorang cowok yang baik , pengertian, dan sabar. Sudah 3 kali Aka menyatakan perasaannya padaku , tetapi tak pernah ku jawab aku hanya bilang kepada aka kalo aku masih mengejar sesuatu. Aka pun mengerti, walaupun dia tak pernah tau aku masih menunggu seseorang , yaitu Arya. Dan Aka masih setia menunggu hatiku. Dan akupun janji akan menjawabnya, aku menerima cintanya atau tidak saat ulang tahun Aka nanti.
***

Pagi di sekolah,
“besok kita bagi rapot sya.” Kata dewi sahabatku
“iya , gue takut nih jadinya masuk jurusan apa wi.”
“udah yakin lo pasti IPA. “
“yaa mudah-mudahan aja kalo kita bisa satu kelas lagi, lo IPA dan gue juga.”
“amiin.”
“haaai semua.” Sapa eza sambil duduk di sebelahku
“apaan si za, JB JB aje.” Kata ku
“hahaha.... lagi ngomongin apaan si? Serius amat?” eza tertawa pelan
“jurusan za...” kata dewi
“oh gitu yaa... lo pasti mah IPA, kalo gue sih maunya IPS.”
“yaa amin-amin mudah-mudahan kita masuk yaa.” Kataku
“iyaa amin .” kata mereka berdua
“eh sya, btw gimana perasaan lo sekarang sama Arya?”tanya eza kepadaku
“yaaah, lo ngomongin Arya lagi.” Jawabku lemes
“dia selau nanyain keadaan lo sama gue sya, ya gue jawab lo baik. Arya juga bilang kenapa dia gak nembak lo. Katanya dia , dia gamau nyakitin lo lagi emangnya lo mau pacaran jarak jauh sama Arya? Arya takut lo nolak dia, kalopun lo nerima dia, kasian elo nya arya gak pernah ada di samping lo . lo tau kan pesantren gimana? Dia pulang juga pas liburan.”
“yaaa.. gue tau. Status menurut gue gak penting. Yang gue mau komitmen za. Kepastian. Dia sayang sama gue tapi dia gak pernah bilang ataupun jujur sama persaannya sama gue. Gimana gue mau percaya sama dia, bisa aja kan dia pacaran disana atau udah punya cewek pengganti gue? Gue yakin za. lagian 6 bulan udah berlalu. Gue mungkin bisa lupain dia, tapi gue gak akan bisa ngelupain semua kenangan tentang kita”
“oh iya, liburan dia kesini sya. Dia pengen ketemu sama lo.”
“gue gamau lah za, udah cukup yang dulu2 gue gamau nantinya keinget dia lagi. Sekarang gue udah punya yang lain, meskipun gue belum jadian sama dia. Tapi kita udah deket semenjak Arya ninggalin gue.”
“siapa?” tanya eza
“aka namanya za, dia ganteng putih jago main basket dan juga jago futsal.” Kata dewi yang menambah pembicaraan suasana menjadi semakin hangat
“serius lo sya?” tanya eza tak percaya
“iya, gue serius dan suatu saat kita pasti akan jadian.” Kataku padanya
“jujur nih gue sya sama lo Arya disana banyak yang nembak dan banyak yang sukain. Lo mau tau semua cewek yang nembak dia banyak, terus dia tolak. Adapun anak SD nembak dia, dan katanya mirip sama lo.”
“terus di terima?” kata dewi sahabat ku, yang duduk di sampingku sembari membaca novel
“gue belom tau kabarnya. setau gue sih dia belum jawab mau nerima tu cewek apa enggak.”
# Bel pun berbunyi
***

Pagi hari,
Hari ini adalah hari yang ku tunggu-tunggu mama ku sudah bersiap-siap untuk mengambil rapotku. ketika sampai di sekolah , aku berpapasan dengan eza. eza tak melihatku mungkin dia gak sadar seseorang yang berpapasan dengannya itu aku. Setelah pembagian hasil rapot selesai ternyata alhamdullilah akhirnya aku masuk jurusan IPA, jurusan yang selama ini aku cari dan sudah aku rencanakan.
“sya, tar abis bagi rapot main yuk.” Kata sari teman dekatku
“okeey, siapa aja?” tanyaku
“banyak lah. Pokoknya.”
“okedeh.”
“lo udah bagi rapot?” tanyanya
“udah nih,”
“wesss... ipa nih ye. Slamet yaa.”
“lo emang belom?” tanyaku
“belom, tar abis ini.”
“oh okey, emng kita mau main apa?”
“main UNO aja, hehe lo bawa uno?”
“kagak sii, yaudah gue balik dulu yaa..tar samper gue aja.”
***

Siang hari,
“natasya, ayok berangkat main.. anak-anak udah pada ngumpul. Jangan lupa uno nya.”
Aku naik motor di jemput oleh teman dekat ku sari. Setelah beberapa menit sampai di rumah sabi, akhirnya kita semua main UNO
“sabi, si eza gak dateng?”
“gatau sya, katanya mau pergi.”
Sabi adalah teman deketku juga , karna rumahnya adalah basecame kami, tempat kami berkumpul dan bercanda bareng
Tak lama sambil kita memainkan UNO , ada suara motor berhenti di rumah sabi. Ici temen ku keluar dan membuka pintu. Ku lihat dari arah jendela ternyata eza, tetapi disana ada seseorang lagi. Memakai helm dan sepertinya aku mengenalnya, Cuma dari jendela tidak terlalu kelihatan. Seseorang itu melepas helm nya dan ternyata... OMG ! batinku...... ternyata seseorang itu adalah...
“sya, ada Arya tuh.”
“hah ? serius lo sab?”
“iya serius gue, tuh anaknya kesini kan.”
Oh Tuhaan.... apa salahku, aku tak ingin bertemu dengannya. Tetapi sekarang kita malah di pertemukan. Apa ini takdirku Tuhan.. untuk bertemu dia lagi. Deg..... tiba-tiba saja terasa jantungku berhenti, getaran ini sudah lama tak kurasakan. Sangat berbeda sekali bila aku dekat dengan aka, tidak ada getaran seperti ini. ada apa ini?” batinku
“sorry sya, dari awal kita semua sudah ngerencanain ini, untuk nemuin lo sama Arya.”
Aku dan arya hanya tersenyum tipis. Tapi aneh sikapnya Arya, dia bener-bener berubah. Dia tak menyapaku. Bahkan menegurku itupun tidak. Apa yang terjadi Tuhan batinku. Apa dia sudah menemukan yang lain? Entahlah.... selama kita semua ngobrol, tetapi aku dan arya tidak juga saling tegur sapa, kenal.. tapi kaya ga kenal.. Arya seperti orang asing dalam hidupku.
“sya, arya kalian berdua diem aja..” ledek mereka
“ayodong kangen-kangenan apa kek gitu?” kata ici teman dekatku yang juga ikut meledek
“tau lo ya, udah ada orangnya malah di cuekin. Giliran ga ada malah nyariin.”ledek eza
“apaansih lo za, gajelas.” Jawabku sinis
“yee lo berdua tuh cinta, tapi munafik. Sama-sama cinta tapi malu-malu gak ada yang mau mulai duluan. Gininih jadinya cuek-cuekan kalo ketemu.”
Kenapa harus gue yang mulai duluan apa musti gue yang negur duluan? Siapa yang buat salah ? gue kah? Atau dia? Yang ninggalin gue siapa? Yang buat gue sedih siapa? Yang buat gue kecewa dan sakit hati siapa? Harusnya lo sadar Arya ! batinku meringis.
“yaudah lah za, kalo mereka emang mau diem-dieman.” Kata sabi
Aku hanya tersenyum ke arah mereka yang menatapku juga Arya. Setiap kali aku memergoki arya melirikku, dan aku juga meliriknya batinku nangis apa iya arya gak kangen sama aku, atau minta maaf? Tapi apa nyatanya... itu tidak sama sekali !! yang ku lihat dari sorotan matanya masih ada cinta dan rindu dihatinya. Akupun merasakan itu. Tatapannya, masih seperti dulu, dingin tetapi penuh arti dari sorotan matanya penuh keteduhan. Andai saja tatapan ini bisa membunuh, mungkin aku sudah terkapar olehnya.
Akhirnya kita semua main UNO , mainan yang biasa kita mainin kalo gak ada mainan yang bisa dimainin . kita anak SMA tetapi masih main kartu UNO, yaa walaupun UNO buat semua umur. Eza pun membagikan kartu UNO nya. Dan kita semua main. Ternyata seiring berjalannya waktu, pertama sari keluar menang, disusul sabi, disusul eza, dan yang terakhir ici, yang salalu main UNO keringetan. Main UNO aja kok keringetan? Dan yang tersisa hanya aku dan aray. Permainan semakin menegang. Belom ada kepastian siapa yang menang aku ataupun aray.
“ayodong menangin sya.” Teman-temanku menyemangatiku. Begitupun aray yang sibuk dengan kartu-kartunya .
“udeh lo pasti menang deh ray.” Kata eza yang malah membela aray di banding aku
“eh belom tentuu.” Kataku , daaaannnn.....
“UNO ! “ aray mengucapkan kata itu bentar lagi dia menang karna kartunya tinggal satu 4+ ternyata.”
aku pun kalah saat permainan itu. Tapi taapalah ini hanya sebuah permainan, akhirnya kita semua tertawa bersama.
bahagia itu sederhana ... walaupun aku dan aray tak saling tegur sapa bahkan saat bermain aray tak juga menatapku. Tetapi dengan melihat aray tersenyum atas kemenangannya padaku. Aku sudah senang.” #Bahagiaitusederhana aku mungkin saja melupakanmu ketika kau pergi, dan jauh disana..tetapi cinta, perasaan kembali ada ketika kau datang
waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Karna hari sudah sore akhinya kita semua memutuskan untuk pulang. Pertemuan yang sangat singkat antara aku dan juga Aray. Sampai pulang kita berdua juga gak ngobrol dan saling cuek-cuekan. Yaa... itulah aray dingin dan sangat cuek
***

Malam ,
Aku masih teringat pertemuan singkat tadi siang. Ini semua seperti mimpi ataukah aku bermimpi?? Sambil memeluk boneka dan tepar di atas kasur aku memutar kembali saat 6 bulan yang lalu , saat aray meninggalkanku, dan pergi begitu saja tanpa kabar. Dan sekarang dia ada disini menemuiku. Aku tak mengerti apa maksudnya
dret.. dret... ponselku bergetar, tanda sms masuk dan ternyata itu dari Aka.
“natasya.. malem.. apa kabar?”
“hei, baik kok Aka.”
“oh gitu syukur deh.”
“besok bisakan dateng kerumah Aka sya?”
Ya Tuhan.. aku lupa besok tanggal 26 adalah hari ulang tahunnya Aka. Untung saja aku sudah menyiapkan kado untuknya jauh-jauh hari.
“okey, besok natasya dateng kok.”
“mau aka jemput?”
“okeh” diakhiri percakapan pendek itu di sms dan akupun tertidur
***

Esok hari,
Jam 10:00 aka sudah sampai di depan pager rumahku. Aku pun pergi kerumahnya di boncengin naik motor satria nya. Di perjalanan dan di pikiranku kosong, entah apa yang aku fikirkan dan akhirnya setelah beberapa menit di perjalanan kita pun sampai di perumahan blok A rumahnya Aka, disana sudah banyak temen-temennya yang berkumpul. Juga sahabat ku putri.
“ka. Ini kado buat kamu.”
“yaampun natasya, pake repot-repot.”
“yaa.. gpp kkok.”
Kado yang aku berikan untuk Aka adalah angsa-angsaan biru hasil karya ku sendiri, juga striminan yang bertulisan namanya dan hari ulang tahunnya
“Heemm ikut aku bentar yuk,” tanganku di gandeng aka ke arah taman komplek dekat rumahnya. Aku tak mengerti apa maksudnya. Terlintas tiba-tiba di fikiranku. Aku lupa kalo aku berjanji akan menjawabnya iya atau tidak untuk menjadi pacarnya.
“heem.. mau ngapain ya ka?” tanyaku terbata-bata aku masih tidak tau harus menjawab iya atau tidak untuk menerimanya.
“adadeh.” Jawab aka
Sesampainya di taman yang indah dan penuh bunga berwarna-warni disana terpampang bunga matahari yang menjulang tinggi juga pohon anggur di sekeliling taman. Di temani teman-teman aka juga putri sahabatku. Karna dialah aku bisa kenal dengan aka, setelah kepergian Arya 6 bulan yang lalu. Di tengah lapangan Aka melepaskan gandengannya.
“natasya, bagaimana dengan jawaban kamu ?”
“jawaban? Jawaban apa?” aku pura-pura tak ingat
“jawaban, apa kamu nerima aku? Atau tidak.”
Jleeeeeeebbbbb................
Ternyata Aka benar menagih janji itu. Aku tak tau kenapa bisa jadi begini. Awalnya aku memang sudah hampir bisa MOVE-ON dari arya, tapi apa? Arya datang kembali di kehidupanku. Menemuiku walaupun itu tidak sengaja bertemu. Tapi apa daya, Aka cowok yang selama ini 6 bulan aku gantungi perasaannya masa iya aku tolak. Cinta diantara dua hati itu tidak mungkin! Aku mencintai arya juga aka..
“natasya, kok diem?” tanya aka
“hah? Iya...apa?” kataku terbata-bata
Temen-temen aka yang menonton dan menyaksikan itu mereka semua menyoraki kita berdua... terima...... terima....... aku bingung saat itu.
“kamu nerima aku atau tidak natasya... aku sayang kamu.” Di raih nya tanganku
Setelah beberapa menit aku berfikir, akhirnya
“iya Aka, Aku terima.”entah apa yang ku fikirkan tak sengaja aku mengucapkan kata-kata itu, terlambat sudah......
Yeeeeyyyy jadiaaaaan sorak mereka tambah ramai. Orang-orang yang ada di area taman bingung karena saat itu teman-temannya aka berisik dan rame. Meskipun saat itu aku malu. Aku memutuskan untuk menerima aka karna aku juga suka sama dia , walaupun aku masih mengharapkan arya untuk menjadi kekasihku. Tapi itu semua tidak mungkin , arya hanyalah mimpi bagiku takkan pernah ku memilikinya.
“makasih natasyaaaa..... ini boneka taddy bear buat kamu”
“iya... makasih yaa aka.”
Aku tak menyangka akhirnya aku jadian juga sama aka, bertepatan dengan ulang tahunnya. Dia memberiku boneka taddy bear berwarna warna pink, Teman-teman aka juga memberi memberi selamat ke kita berdua. Taman itu menjadi saksi cinta kita berdua.
***

Kejadian kemarin telah berlalu. Kini aku sudah menjadi milik orang lain . aku mungkin bisa belajar untuk menyayangi aka, namun mungkin tak sepenuhnya karna aku masih mengharapkan cintanya arya entah sampai kapan.
Baru sehari kami berdua jadian, berita itu sudah menyebar sampai ke kuping teman-temanku terutama arya. Arya sudah mengetahui kalo aku sudah jadian , arya pun syok mendengar kabar tersebut yang datangnya dari eza. Eza adalah sahabatku sekaligus sahabat dan teman curhatnya arya . jadi apapun yang terjadi denganku pasti eza tau, dan bakal lapor ke arya.
Ponselku tiba-tiba berdering , ternyata ada tlp dari ici sahabatku.
“halo?” sapanya
“iya ci, tumben tlp ada apa?” tanyaku
“gpp, Cuma mau mastiin aja.”
“apa?”
“lo beneran jadian sama aka? Cowok yang sering lo ceritain itu ke gue?.”
“iya ci.”
“selamet ya sayang.”
“eh iya makasih.”
“oh iya, arya udah tau lo jadian?”
“udah, sepertinya dari eza.”
“iya, gue juga tau dari si eza . Kirain itu boongan ternyata beneran.”
“iya, itu semua bener. Gue jadian kemaren tanggal 26 pas ulang tahunnya ci.”
“hmmm... lo udah tau kalo arya nyusul jadian setelah lo jadian sama aka?”
“apa..?” Aku tersentak kaget . tak sengaja ponselku ku banting ke arah tempat tidur, dan untungnya tidak ke lantai, ku ambil lagi dan kudengarkan apa yang sebenarnya terjadi.
“halo sya?”
“ya maaf, tadi hp gue jatoh. Gue kaget abisnya.” Jantungku tiba-tiba saja terasa sesak dan sakit entah kenapa , aku tak mengerti
“jadi gini, hari ini arya jadian sya”
Deeeg......serangan itu kembali ada
“gak, gue gak tau? Emang dia hari ini jadian? Sama siapa?
“sama anak sana yang katanya mirip sama lo, namanya evina.”
“evina? Semoga dia bahagia.” Ku akhiri percakapan itu , walau singkat tapi menyakitkan bagiku.
sungguh aku tak percaya, dan hari ini tanggal 27, ternyata hari ini jugalah arya jadian sama pacarnya evina. Aku tak mengerti apa maksudnya aray dengan semua ini. Ataukah evina yang katanya mirip denganku itu Cuma sebagai pelampiasannya saja?ataukah arya bener-benar menyayanginya? Entahlah.
Kini semuanya tlah berakhir, meskipun aku tak mengerti jalan fikirannya arya. Tetapi aku yakin, dihati kecilnya arya meskipun sedikit saja, dia masih menyisihkan tempat untukku dihatinya dan menyimpan namaku dihati kecilnya.. begitupun aku, meskipun aku sudah mempunyai seorang kekasih , dan dialah yang membuatku menyadari. Menunggu itu tidak enak, apalagi orang yang kita tunggu gak pernah mencoba untuk meraih kita.sungguh menyakitkan. Mungkin arya sama sepertiku, menjalani semuanya tetapi tidak apa yang dia inginkan.
***

Tiba-tiba saja ponselku bergetar ternyata tlp masuk .
“halo?natasya?Sya, hari ini arya mau pulang.”
“pulang?” ternyata sms itu berasal dari sari yang juga teman baikku
“iya pulang, padahal dia baru sebentar di jakarta. Malah belom sempet kangen-kangenan kan sama lo? Eh tapi gak deh lo berdua kan udah sama-sama punya pacar. Tapi gue sih yakin pasti lo berdua masi saling ngarepin iya kan?”
“gak usah nyindir gitu deh sar.”
“haha.. iya maaf” sari tertawa pelan
“oh iya , lo tlp gue Cuma mau ngasi tau kalo dia pulang?’’
“yaa.. gue sedih banget dia hars pulang dan katanya gak akan balik lagi.”
Deeegggg........... tiba-tiba saja air mataku mulai jatuh perlahan setelah mendengar kabar itu dadaku terasa sesak dan saat ini sulit untuk bernafas
“syaa?” panggilnya
“natasya? Lo gak apa-apa kan? Diem aja?”
‘’eh iya sorry apa tadi yang lo bilang, gue gak denger.”
“arya mau pindah dan tinggal di lampung selama 3 tahun. Dia gak akan balik lagi dan pastinya rumahnya yang disini mau di kontrakin.”
“apa?”
“iya bener, eh udah dulu yaa byee..
Sari mengakhiri percakapannya , aku tak mengerti dengan semua ini.. lagi-lagi arya pergi dan ninggalin aku untuk kedua kalinya, tapi ini berbeda dia gak akan kembali. Ini semua tak mungkin. Ku putar lagu pasto aku pasti kembali, dan lagu itu yang menjadi lagu kita berdua dulu. Teringat aku dan arya sering menyanyikan lagu itu berdua.. di pekarangan sekolah sambil memainkan gitar
Reff : aku hanya pergi tuk sementara..
bukan tuk meninggalkanmu selamanya..
aku pasti kan kembali, pada dirimu.. tapi kau jangan nakal, aku pasti kembali..
aku pasti kembali.........
***

Pukul 06.00 pagi,
Aku terbangun dari tidurku, aku tak bisa berhenti menangis tadi malam, mungkin sebabnya mataku sembab dan layu seperti ini. aku tak mengerti mengapa aku menangisinya. Aku tak mengerti apa yang ku tangisi. Cintanya? Ataukah karna arya yang ingin pergi? Entahlah..aku tak mengerti..Seharusnya aku seneng arya pergi dan gak akan kembali lagi, tapi apa nyatanya? Aku malah seperti ini, seharusnya aku sadar aku sudah mempunyai seseorang kekasih begitupun arya.... Aku juga tak mengerti perasaanku gelisah tadi malam, tadi malam aku juga melihat arya tapi aku , aku tak ingat dia ada di mimpiku? Atau dia datang tadi malam. Yang ku ingat dia datang memakai baju putih dan dia tersenyum padaku, dia memegang tanganku dan berbisik. Jangan sedih, karna arya akan selalu ada dihati kamu. Dan kamu selalu ada di hati arya.. mungkin arya gak akan pernah kembali.
Dret..dret.. hp ku berdering, ternyata ada tlp dari eza aku pun cepat-cepat mengangkatnya..
“sya, udah bangun??’’
“ada apa?gue baru aja bangun.”
“lo udah tau kan arya pergi?”
“iya , gue udah tau dari sari dia yang ngasih tau gue kemaren malem.”
“suara lo kenapa?”
Mungkin suaraku begini adalah efek tangisanku tadi malam , aku tak bisa tidur.. hanya arya yang aku fikirkan tadi malam.
“hah? Suara gue? Gpp, gue lagi sakit tenggorokan biasalah radang.
“bohong, lo pasti abis nangis ya?”
“enggak.” Aku memang berbohong sama eza, karna aku tak ingin kawatir.
“ada apa tlp gue pagi-bagi begini? Tumben?’
“iya, gawat sya penting gawat. Arya barusan aja masuk rumah sakit.”
“apaaa?” aku tersentak kaget dan mataku kini sudah tak mengantuk lagi
“iya udeh lo cepetan mandi. Cepet nanti lo gue anter kerumah sakit gue jemput.”
Aku segera mengakhiri tlp, aku bergegas untuk mandi. Dan setelah aku selesai mandi, dan siap untuk berangkat , tiba-tiba saja terdengar bunyi motor depan pagar rumahku, ku lihat dari jendela ternyata itu eza, aku cepat keluar dan pamit tidak sempet sarapan pagi
“za, ceritain ke gue plis.”
“udah cepet naik , nanti gue ceritaiin di jalan.”
Aku segera naik dan meninggalkan rumah. Aku pergi dengan hati yang cemas, selama di perjalanan aku hanya diam dan diam.
‘’sya, jangan diem aja .”
“jelas aja gue diem.”
‘‘ini adalah bukti kalo lo masih sayang banget sama arya, iya kan?”
“gak. Gue Cuma khawatir” kataku ngeles
“Khawatir? Kalo lo Cuma kawatir, gak akan lo mau pagi-pagi kaya gini disuru kerumah sakit buat liat keadaan arya, padahal lo sendiri udah punya cowok. Tapi lo sendiri malah ngawatirin arya di banding cowok lo”
“jelasin ke gue kenapa arya?”
Hening........ aku tak mengerti kenapa suasana menjadi hening.. keadaan pagi yang dingin ini menusuk tubuhku
“eza?’’ panggilku
“eza, arya kenapa?’’ panggilku sekali lagi cemas
“dia... dia.. “
“dia? Dia kenapa zaa.”
Eza tak juga menjawabnya, setelah setengah jam di perjalanan, tak terasa kita sudah sampai dirumah sakit. Setelah eza memarkirkan motornya, aku dan eza langsung pergi menuju ruang kamar tempat arya dirawat. Aku dan eza melihat teman-temanku sudah rame dan berkumpul di ruang kamar arya, aku tak mngerti mereka semua menangis sampai isek-isekan. Apa yang terjadi? Aku tak mengerti . tiba-tiba saja ditengah kerumunan mereka yang sedang menangis, aku melihat seseorang memakai baju putih keluar dari arah pintu kamar rumah sakit tempat arya dirawat. Aku diam dan tak menghampiri seseorang itu. Ku lihat eza sudah tidak ada disampingku. Aku seperti mengenalnya, wajahnya pucat, lesu, dan dia tersenyum kepadaku. Dia itu arya? Apa dia itu arya? Dia tersenyum padaku? Tapi aku heran mengapa mereka semua masih menangis? Sedangkan arya? Dia baru saja kluar dari arah pintu dan tersenyum padaku.... tiba-tiba saja saat aku ingin menghampiri seseorang itu, seseorang itu hilang? Hilaaaang????? Iya, tiba-tiba saja hilang. Aku tak mengerti kemana bayangan itu pergi.
“natasyaaaa..... “ tiba-tiba ici menghampiriku dan memelukku
“ada apa? kok lo nangis?” tanyaku heran, ici masih saja menangis di pelukanku
“arya syaaa... arya.....gue gk percaya dengan semua ini, padahal waktu kemaren kita abis ngmpul bareng.. gue gsk percaya!”
“arya kenapa? Dia baik-baik ajakan? Barusan gue liat dia keluar kamar dan dia senyum sama gue, tapi anehnya dia langsung pergi dan hilang gitu aja pas gue mau nyamperin dia.. yaa.. barusan .” kataku polos tak mengerti
“apa? “ ici menatapku
“iya seius gue gak boong tuh barusan dia kesana” aku menunjukkan ke arah bayangan itu pergi
“arya itu udah gak ada natasya, dia pergi ninggalin kita semua.. bukan untuk pergi dan tinggal di lampung, tetapi dia pergi untuk selamanya.”
“gue gak ngerti, jelas-jelas gue barusan liat dia.”
“ikut gue,” di tariknya tanganku masuk ruang kamar arya
“lihat,dia udah gak ada, gue gak sanggup dengan semua ini.”
“aryaaaaa... aku menghampiri arya yang terbaring lemas dan kaku, juga pucat dan tangannya begitu dingin.”
“arya, bilang ke gue kalo ini gak bener. Aryaaa buka mata lo, bilang kalo ini gak bener. Kenapa lo gak mau buka mata lo , aryaaa plis.” Aku tak bisa menahan tangis
“arya, plissss arya gue mohon, jangan ninggalin natasya dengan cara seperti ini natasya gamau ditinggal arya, natasya sayang banget sama arya. Arya bilang, kalo ini bohong, tangan arya dingin banget, arya sakit? Arya kedinginan? Tadi arya baru aja senyum ke natasya aryaaa bangun.”
Saat itu aku tak bisa menahan tangis, tangan arya saat itu dingin banget semua itu bisa ku rasakan. Tetapi dokter langsung membawanya, ku lihat terakhir kali arya tersenyum padaku, ini mimpi? Katakan ini mimpi padaku.
“natasya?’’ seseorang menarik tanganku, entah itu siapa dia langsung memelukku
“ikhlasin dia natasya, dia udah gak ada jangan menangis terus, ikhlasin dia.”
Aku tak bisa menahan tangis, aku sekarang rapuh, aku tak bisa apa-apa dengan kenyataan pahit ini. batinku
“ikhlasin dia natasya, ini semua demi kebaikannya.” Aku masih terhanyut dalam susana dan juga didalam pelukan seseorang itu, ketika aku membuka mata ternyata seseorang itu adalah aka, pacarku yang juga ada disana.. menyaksikan itu semua
“ayok kita keluar, aka jelasin semuanya.”
Teman-temanku masih saja menangis, dan juga ku lihat eza sepertinya dia juga sangat terpukul. Aku mengerti perasaan eza, dan juga teman-temanku semuanya.
Ternyata, aka membawaku ke kursi taman belakang rumah sakit.
“aka udah denger semuanya sayang.”
“maafin natasya, maafin natasya.” Kataku pelan
“gk usah minta maaf, justru aka yang minta maaf sama kamu. Mungkin kalo kamu denger ini semua kamu nantinya bakalan benci dan marah sama aka, pacar kamu.”
“kenapa kamu ngomong gitu?” tanyaku tak mengerti
“kamu tau? Kamu ingat 6 bulan yang lalu pas arya pergi ninggalin kamu tanpa pamit?”
“iya aku ingat?”
“dia itu pergi ninggalin kamu karna dia sakit, bukan karna dia sekolah di pesantren juga. Dia Cuma nyari alesan yang masuk akal.Selama itu dia pergi untuk berobat kesana-sini. Tapi itu semua gagal. Pengobatan itu sempat berhasil, tetapi tidak berlangsung lama.”
Hening..... aka melanjutkan ceritanya
“selama dia pergi untuk tinggal di lampung, dia bilang kalo dia pindah ke pesantren.. padahal tidak sayang.. dia pergi bersama orang tuanya untuk berobat. Dia punya penyakit jantung. Kemaren pas kamu main sama dia sama teman-teman kamu ,mungkin saat itu keadaan arya sudah pulih tetapi , arya drop dan harus pulang dan pindah ke lampung selama 3 tahun untuk menjalani pengobatan. Orang tuanya arya terpaksa pindah kesana, karna tidak mungkin bolak-balik dengan kondisi arya seperti itu lampung-jakarta itu lumayan jauh.”
“selamaya 6 bulan, arya menitipkan kamu ke aku. Karna aku sahabat baik arya sejak kecil. Hanya aku yang tau tentang penyakitnya,selain keluarganya sel. Maafkan aku, natasya... seharusnya dari awal aku jujur sama kamu. Pas kita jadian tanggal 26 kemarin, arya mengetahui kabar itu. Awalnya aku gak enak sama dia, tapi aku bener-bener sayang dan tulus sama kamu itu semua aku lakuin untuk ngejagain kamu. Pas arya tau kita jadian, dia pesen sama aku , supaya kamu suatu saat nanti dia udah gak ada, kamu harus bisa ngikhlasin dia. Ini semua demi kebaikannya natasya.ini semua udah ada yang ngatur”
“Tadi aku juga menemaninya sbelum ajal menjemputnya. Dia berpesan padaku sayang, katanya dia minta maaf sama kamu dan teman-teman kamu juga. Karna dia gak mau buat kamu sedih juga semuanya. Tadi aku juga udah cerita ke semua teman-teman kamu dan tadi aku suruh eza jemput kamu. Maafin aku terlambat ngasih tau kamu.”
Tangisku semakin tak terkendali, aku tk bisa menahan semuanyaa.... ini semua telah berakhir, dan akupun kini harus membuka hatiku untuk orang lain
“ aku gak marah sama kamu, aku juga ngerti kalo misalnya aku ada di posisi kamu saat itu. Aku ikhlasin , walaupun aku masih sakit dan sangat terpukul.”
“ya, seharusnya kamu bersikap seperti itu sayang, itu semua udah tuhan yang atur. Kita sebagai umatnya hanya bisa sabar, ikhlas, dan menerima.”


Tuhan... jika ini semua sudah menjadi jalan takdirku,aku ikhlas Tuhan...
Tabahkan aku , berilah tempat yang nyaman disana buat Arya Tuhan...
Sayangi dia, dan meskipun Arya sudah tidak ada di dunia ini. tapi aku masih tetap menyayanginya... sampai nanti ku menutup mata...

SELESAI

Pembunuh Ibuku

Siapa yang tak bersedih jika mempunyai seorang ibu yang meninggal dunia karena dibunuh dan pembunuhnya belum diketahui. Ya, ibuku meninggal dunia karena dibantai oleh orang tak dikenal. Ada lima tusukan yang mendarat di perutnya. Tak tega aku menyaksikan tubuhnya terkapar, bersimbah darah di dapur. Ibuku terbunuh saat aku berangkat kerja.
Aku anak lelaki semata wayang. Ayah telah tiada setahun yang lalu. Saat aku berangkat kerja, ibu di rumah seorang diri. Saat itulah ibuku dibunuh, sekitar jam sembilan pagi. Dugaan awal polisi adalah perampokan disertai pembunuhan. Ya memang, perhiasan ibu diambil semua, tak bersisa.
Aku hanya bisa meraung sekeras-kerasnya. Dendam ini begitu kuat seperti setan merasuk di dada. Ingin aku balas dengan membunuh orang yang membunuh ibuku, nanti jika telah tertangkap polisi. Nyawa harus dibayar dengan nyawa!
Ibu. Ya ibu, sosok yang telah mengandungku selama sembilan bulan. Melahirkanku. Menyusuiku, merawatku, menimangku, dan membesarkanku. Harus meninggal dunia dengan cara tragis. Kalau tahu nestapa ini akan menimpa ibuku, biar aku saja yang menggantikannya. Biar aku yang tercabik. Jangan ibuku. Jangan, jangan, jangan… Kasihan ibuku! Dan kini di depanku terbujur kaku jenazah ibu berbalut kain kafan.
Diiringi rintik hujan, seakan langit ikut menangis, jenazah ibu dikebumikan. Keluarga besar dari ibu dan dari ayah, serta para tetangga menghantarkan jenazah ibuku sampai ke pemakaman. Risdi berada di sampingku, menemaniku menghantarkan ibunda tercinta ke tempat peristirahatan terakhirnya.
***
“Ibuuuuuuuuuuuuuu…!!! Ibuuuuuuuuuuuuuu…!!! Ibuuuuuuuuuuuuuu…!!!” aku berteriak di tepi pantai. Ya sejak ibuku telah tiada, aku menjadi suka menyendiri di tepi pantai. Memanggil nama perempuan yang paling aku sayangi dan cintai di dunia ini. Ya, aku memang belum menikah, dan aku ingin mencari sosok istri yang seperti ibu.
“Sudahlah, Gus. Yang lalu biarlah berlalu. Lebih baik kamu mendoakan ibumu dalam sholatmu, biar beliau tenang di alam kubur…” tiba-tiba suara Risdi sahabatku sudah di dekat telingaku. Ternyata tanpa sepengetahuanku, Risdi mengikutiku menuju ke pantai.
“Coba kalau kamu yang jadi diriku, kamu yang ada diposisiku!” teriakku sambil memegang kerah bajunya. Ia hanya tersenyum dan menahan nafas. Risdi memang telah paham benar karakterku.
Risdi adalah sahabat terbaikku, teman sekolah dari SD sampai bekerja. Rumahnya dekat dengan rumahku. Kami sudah seperti kakak beradik, meskipun umurnya tua aku sebulan, tapi Risdi nampak lebih temua dan ngemong.
Risdi sahabat yang selalu ada tatkala aku dalam suka maupun duka. Jika aku ada masalah, pasti Risdi membantu, meski hanya sekedar saran, namun sangat membantu menyurutkan emosiku. Seperti rembulan yang menjauh dari bibir pantai dan membuat air laut surut.
Risdi berasal dari keluarga yang pas-pasan. Bapaknya, Pak Sahlan seorang penjahit, sementara ibunya, Bu Darsah merupakan ibu rumah tangga biasa.
Risdi mempunya tiga orang adik yang masih sekolah semua. Sementara usai lulus kuliah, Risdi masih berpindah-pindah kerja. Belum mapan. Namun perpindahan kerjanya masih dalam satu kota.
***
Waktu terus berlalu. Duka hatiku belum lagi surut, seperti musim kemarau yang datang tak berganti sepanjang tahun. Seperti tak pernah datang lagi musim hujan. Gersang dan tandus. Hanya kabut hati yang terus mendung dan hitam kelam.
Selain ke pantai, aku kerap mengunjungi makam ibu yang bersebelahan dengan makam ayah. Menaburi bunga-bunga di atas pusara. Dan memanjatkan doa-doa.
Niatku untuk menikah dalam waktu dekat, aku tunda. Aku merasa belum siap atas kepergian ibu. Tanpa ibu segalanya menjadi nampak gelap. Namun lagi-lagi Risdi mampu menjadi pelipur laraku. Menyejukkan hatiku. Meski dalam hati dendam terhadap pembunuh ibuku masih ada.
“Akan aku bunuh siapapun orangnya yang membunuh ibuku. Aku harus membuat pelajaran bagi siapapun yang telah merampas kebahagiaanku. Kebahagiaan ibu adalah kebahagiaanku. Duka ibu adalah dukaku. Sakit ibu adalah sakitku. Perih ibu adalah perihku!” teriakku di depan Risdi di tepi pantai. Debur ombak yang membentur batu karang mengiringiku bersumpah serapah.
“Jangan seperti itu, Bagus. Tidak baik kamu mendendam pada orang lain termasuk pada pembunuh ibumu sekalipun. Maafkanlah dia, doakan saja dia agar tobat. Kamu akan tenang, hidupmu akan tenteram,” ucap Risdi dengan nada suara lembut dan menyejukkan. Seperi es yang ditempelkan pada kulit yang panas.
“Apa katamu? Enak saja kamu bicara seperti itu. Aku yang mengalaminya sendiri, mempunyai ibu yang terbunuh, sehingga bisa merasakan sakit yang di alami ibuku!” teriakku sambil memegang kerah bajunya dan biji mata yang ingin ku keluarkan dari tempatnya. Risdi cuma tersenyum, mencoba mendinginkan suasana.
***
Seperti mendengar petir di siang hari. Aku menyaksikan sendiri, Bu Darsah digelandang polisi dengan tangan terborgol. Dengan barang bukti sebilah pisau yang berlumuran darah dan perhiasan emas. Seorang ibu yang telah melahirkan Risdi, digelandang polisi.
Aku tercekat. Tubuhku bergetar. Jantungku berdegup kencang. Daraku seakan berhenti mengalir. Keinginan untuk balas dendam berpenturan dengan rasa simpati pada sahabat karibku Risdi. Ibuku telah meninggal dunia karena dibunuh. Dan yang membunuh adalah Bu Darsah, ibunda dari sahabatku, Risdi. Sementara Bu Darsah ditangkap polisi karena membunuh ibuku. Tak mungkin, ini pasti lelucon dalam mimpi. Aku menggigit jariku sendiri. Sakit. Aku tidak bermimpi. Ini nyata! Aku histeris, seperti ada badai yang berkecamuk dalam dadaku.
“Sekarang kamu telah tahu siapa pembunuh ibumu. Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Risdi sambil menepuk pundakku. Aku hanya bisa tertunduk. Kami berdua sesunggukkan. Larut dalam lamunan masing-masing. Akan kisah tragis ibu kami masing-masing.[]

"Persahabatan Sampai Mati"

Baby adalah seorang cewek yang bandel dan sering tawuran. Sehingga ia sering dikeluarkan dari sekolahnya dan pindah ke sekolah lain. Padahal awalnya ia anak yang sangat bik dan ramah kepada semua orang. Tapi, semenjak kedua orang tuanya sering bertengkar dan sibuk dengan urusannya masing-masing Baby menjadi tidak di perhatikan dan bergaul dengan orang yang salah sehingga kelakuannya menjadi bandel dan badung sekali.

Setiap kali ia dikeluarkan dari sekolahnya. Orang tua Baby sudah tidak peduli lagi kepadanya. Apalagi, di sekolah ia tidak mempunyai teman. Meskipun ia anak yang bandel tapi, sebenarnya ia sangat tertekan menjadi anak broken home seperti sekarang. Ia, sangat ingin…sekali mendapatkan seorang sahabat yang baik dan mengertinya apa adanya. Bukan hanya memandang kekayaannya seperti teman-teman yang lainnya dulu.
Karena Baby sering bertengkar dengan temannya. Ia pun di pindahkan sekolahnya ke SMA Mahakarya. Sebenarnya, ia sudah bosan karena harus berpindah-pindah sekolah terus. Tapi, karena perbuatannya yang menurut sekolah mencemarkan nama baik sekolah itu jadi dengan terpaksa ia harus pindah sekolah.
Saat hari pertama masuk sekolah. Baby pusing mencari kelasnya. Ia pun masuk ke ruang guru. Untungnya di sana ada bu Lily wali kelas yang akan di tempati oleh Baby.
“Maaf bu, saya anak baru disini saya mau menanyakan kalau kelas 8b di mana yach?”, tanya Baby dengan nada tidak sopan.
“Oh, kamu anak yang baru pindah itu yach kalau begitu kebetulan. Ibu adalah wali kelas kamu. Mari bareng dengan ibu!”, jawab Bu Lily.
Setelah sampai di depan kelas. Bu Lily membuka pintu. Lalu semua pandangan tertuju kepada Baby. Orang orang di kelas belum mengenalnya.
“Nah, anak-anak perkenalkan ini anak baru di kelas kita namanya Baby. Baby ini pindah dari sekolahnya yang lama. Ayo Baby perkenalkan diri kamu!”, ucap bu Lily.
“Mmm…Perkenalkan nama saya Baby Lestari. Saya pindah kesini karena katanya di sini orang-orangnya baik. Terimakasih.”, ucap Baby singkat.
“Baby kamu duduk dengan Marry!”, suruh bu Lily.
Baby pun berjalan menuju bangku Marry. Marry adalah seorang cewek cantik, baik and pintar. Ia pun orangnya ramah kepada siapa pun.
Saat pelajaran berlangsung Marry tampak sangat senang bisa duduk dengan Baby. Baby pun demikian mereka berdua sangat akrab. Jam istirahat pun tiba. Marry mengajak Baby pergi ke kantin. Di kantin mereka mengobrol dengan sangat asyik.
“Baby, kamu emang kenapa pindah dari sekolah yang dulu saya rasa yang kamu ucapkan tadi bohong dech???”, tanya Marry.
“Sebenarnya aku pindah sekolah karena bertengkar dengan temanku sendiri. Jadi, aku dipindahkan ke sini.”, jawab Baby.
“Bab, kamu punya kakak atau adik mungkin?”, tanya Mary.
“Aku ini anak tunggal yang sangat malang nasibnya.”, jawab  Baby dengan suara yang lemah.
“Maksudnya???”, tanya Marry keheranan.
“Aku ini dulu anak yang sangat bahagia semua keinginnku pasti akan terpenuhi semua kasih sayang, cinta dan semua hal yang membuatku bahagia bisa aku dapatkan. Tapi sayang saat aku beumur 10 tahun ayahku selingkuh dengan wanita lain. Sehingga, ibu tak pernah peduli kepada keluarganya termasuk aku begitupun ayah. Mereka, hanya memberiku uang saja padahal aku ingin kasih sayang seperti dulu. Sekarang aku menjadi anak broken home yang bandel”, ucap Baby dengan nada sedih.
“Kamu nggak usah sedih kayak gitu lagi! lagian masih banyak kok orang yang mau biak sama kamu termasuk aku. Menurutku meskipun masa lalumu suram kamu nggak usah menjadi anak bandel seperti sekarang. Lebih baik kamu manfaatin hidup kamu sekarang karena hidup itu hanya satu kali”, ucap Marry dengan sangat ramah.
“Tapi, kamu ggak ngerti perasaan aku. Aku tuh sedih dan terpukul atas kelakuan orang tuaku. Kenapa mereka tega melakukan itu. Dan kamu pasti kamu mau temenan sama aku Cuma karena aku ini orang kaya yang selalu punya uang”, ucap Baby dengan nada tinggi.
“Ya..Allah Bab kok kamu ngomong gitu sih. Aku tuh serius pengen temenan sama kamu. Ya udahlah kalau kamu udah mulai males ngomongin hal itu. Ngomong-ngomong kamu mau ikutan ekskul apa???”Ucap Marry.
“Aku nggak tau tuh mau ikutan ekskul apa emang kamu ikutan ekskul apa Mar”, tanya Baby.
“Kalau aku sih ikutan ekskul club pecinta alam. Rencananya sich besok  kita akan pergi menaiki gunung Berjo. Apakah kamu mau ikut?”, ucap Marry.
“Mmmm…..boleh, boleh aja sih aku kan seneng banget naik gumung kayak gitu. Kalau gitu anterin aku daftar dong ekskulnya dong!.”, jawab Baby.
“Iyaa…Tapi, nanti sesudah kita shalat dzuhur pulang sekolah”Ucap Marry.
“Oke lah Marr”, jawab Baby.
Bel masuk pun berbunyi mereka masuk ke kelas berdua. Begitupun saat pulangnya. Saat menuju masjid sekolah untuk Shalat. Baby mulai merasa ragu karena sudah lama ia tidak shalat Marry pun mengjarkannya cara berwudlu dan shalat lalu mengantarkannya ke tempat pendaftaran ekskul club pecinta alam.
“ Bob, kenalin ini anak baru ia mau ikutan ekskul ini. Boleh yaach!!!!”, pinta Marry kepada ketua ekskul itu.
“  Boleh kok. Emang namanya siapa dan dari kapan dia pindah???”, tanya Boby.
“Oh, namanya Baby, dia baru masuk sekarang.”, jawab Marry.
“Kalau begitu besok kalian datang dan bawa peralatan naik gunung jam 07.00 di lapangan basket.” , ucap Boby.
Baby mengajak Marry main ke rumahnya untuk membereskan barang-barang untuk besok bersama-sama. Saat sampai di rumah baby Marry sangat terkejut karena rumah Baby sangat bagus dan besar. Sedangkan, rumah Marry kecil dan jelek.
“Bab rumahmu bagus banget.”, ucap marry dengan terkagum-kagum.
“Ah….ini mah sih biasa aja lagi marr!”, ucap Baby.
Mereka berdua pun masuk kedalam kamar Baby disana barng-barang nya sangat antic dan mahal. Jadi, Marry sangat takut untuk merusaknya. Karena waktu sudah menunjukkan waktunya untuk shalat Ashar. Marry pun mengajak Baby untuk shalat dulu.
Setelah selesai shalat. Marry pamit pulang karena ia tidak boleh pulang lebih dari jam 04.00 sore. Baby merasa sedih karena Marry akan pulang. Tapi masa Baby harus merengek kepada Marry supaya janga pulang.
1 jam pun berlalu Baby sangat senang pada saat itu, hari pun berganti malam Baby pun ingin cepat tidur agar besok ia bisa bangun pagi dan berangkat ke sekolah tepat waktu.
Baby mendapatkan sebuah mimpi buruk tentang seorang sahabat yang mendekat lalu pergi begitu saja dan Baby tidak tahu mengapa orang itu pergi begitu saja. Ia menganggap itu hanya mimpi buruk saja yang bisa dialaminya.
Saat ia terbangun dari tempat tidurnya sudah terlihat banyak SMS dari Marry untuk dirinya yang isinya mengatakaan agar Baby segera shalat Shubuh. Untungnya jam baru menunjukkan pukul 05.00 pagi masih ada waktu untuk shalat.
Setelah selesai shalat, Baby langsung mandi, sarapan dan pergi ke sekolah membawa tas yang kelihatannya sangat berat.  Ia menyetop taxi di depan rumahya padahal biasanya Baby selalu ingin diantar oleh supirnya. Semua orang dirumahya keheranan melihat sikap Baby yang berubah derastis sejak berteman dengan Marry.
Saat sampai disekolah ia mencari Marry. Dan bertemunya di kantin sekolah.
“ Bab kita di suruh membuat regu 1 kelompok itu 2 orang!”, ucap Marry.
“Kalau begitu kita sudah siap donk.”, ucap Baby.
“Tapi Bab kok perasaanku kok jadi gak enak kaya gini yah?”, ucap Marry.
“Ah…itu Cuma pirasat doang kok.”, jelas baby.
Mereka pun mulai berangkat bareng dengan rombongan. Saat di perjalanan mereka beristirahat dulu karena sudah agak jauh mendaki dan hari sudah sangat panas. Marr ayo kita shlat berjamaah, disana ada mesjid tuh.
Saat hendak berjalan ke mesjid. Tiba-tiba Boby menyusul dari belakang.
“Hey! Kalian mau kemana?”, tanya Boby.
“Oh…kita amu ke masjid kamu mau ikut kita shalat bareng yuk!”, ucap Baby.
“Boleh. Kita shalat berjamah yuk dan aku imamnya.”, ucap Boby.
Mereka bersama-sama shalt dan pulang l;agi ketempat istirahat. Hari jadi agak mendung. Mereka pun memutuskan untuk membuat tenda disitu. Karena tempatnya lumayan aman.
Saat matahri akn terbenam Baby mengajak Marry melihat sunset.
“ Bab aku mau gomong sama kamu. Aku seneng banget deket sama amu. Kamu itu anak yang baik pintar lagi. Yah meskipun masa lalu kamu buruk aku teep pengenbanget temenan sama kamu selamanya.”, ucap Marry dengan nada serius.
“apalagi aku Marry. Aku nggak pernah ngerasain senang seperti ini aku seperti melayang di udara. Hidupku menjadi terasa ringan setelah ada kamu. Kamu mau janji sesuatu kan sama aku. Kita ini harus jadi sahabat yang nggak akan pernah berpisah selamanya.”, ucap Baby.
“Yah…aku janji. Dan inget pesan aku kamu jangan pernah tinggalin shlat karena itu sangat penting Bab!’, ucap Marry.
“ Siap bosss.”, ucap Baby.
Hari pun semakin malam rombongan kemah pun banyak yang sudah ngantuk lalu tidur di tendanya masing-masing. Begitupun Marry dan Bay.
Saat hari esok tiba mereka pun  melanjutkan pendakain. Batu demi batu mereka lalui. Tapi tiba-tiba tali pengaman Marry putus. Spontan aku berteriak menahan Marry dan kupegang tangannya. Semua orang malah melihatku dan menjerit-jerit kaget melihatnya. Marry sudah tidak kuat pegangan kepadaku. Ia pun melepaskan tangannya perlahan dari tanganku. Hatiku punmerasa jatuh bersama Marry.
“Marr kok kamu lepasin peganngannya. Kamu jangan pergi duluan kita kan udah janji untuk menjadi sahabat selamanya. Jadi, kamu jangan pergi duluan. Kamu jahat Marry.”, ucap Baby tersedu-sedu.
Semenjak kejadian itu setiap hari Baby tak pernah lupa untuk shlat lima waktu. Ia pun menjadi wanita berkerudung. Tapi, sayang karena ia terlalu shok dan stress karena memikirkan Baby ia pun meninggal dunia dan makamnya di kuburkan di samping makam Marry yang telah meninggal lebih duluan dari Baby.

MISTERI VILA MERAH BATA

Tiga orang bersahabat; Panji, Arjuna dan Rama merasa lega karena akhirnya UN telah berhasil mereka lalui. Segala upaya telah mereka lakukan untuk melewati rangkaian ujian-ujian sekolah, dan salah satu yang terpenting yaitu belajar sungguh-sungguh. Sambil menanti pengumuman hasil dari UN, ketiga orang bersahabat ini berencana untuk liburan.
Sore itu mereka bertemu di rumah Arjuna. Sebuah rumah yang megah, mewah, untuk mematangkan rencana liburannya.
“Bagaimana kalo kita pergi naik gunung…?!” Panji menyampaikan idenya dengan penuh semangat.
Rama yang sedang duduk santai bersandar di sofa, dekat Panji, langsung menyahut.
“Ah…malas…!” sahutnya sambil tetap duduk bersandar dan tetap memainkan handphone-nya
Sesaat kemudian Rama berhenti mengutak-atik handphonenya, lalu ia menegakkan duduknya.
“Gue ingin liburan santai, yang gak pake cape..” lanjut Rama
“Gimana kalo kita pergi berlibur ke Bali…?!” tanya Panji asal bunyi sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk yang berada di dalam kamar Arjuna. Kamar itu luas dan terasa sejuk oleh pendingin ruangan.
“Apa..? Emangnya ke Bali tiket pesawatnya bisa dibeli pake daun..!? Pasti orang tua kita pun gak bakal mau mengeluarkan uang sebanyak itu…!” Protes Rama dan melihat Panji dengan wajah serius.
Panji juga ikut melihat Rama tapi raut wajahnya tampak agak berpikir. Dahinya sedikit berkerut, seakan sedang berpikir menghitung jumlah biaya jika mereka harus ke Bali.
“Untuk biaya melanjutkan ke universitas aja, bokap gue benar-benar kerja keras..!!!” lanjut Rama dan masih tetap sedikit mendengus dengan sebal. Panji tetap masih diam belum menyahut, sepertinya ia terlihat kesulitan juga untuk menghitung biaya jika mereka harus ke Bali.
Mendengar perdebatan kedua sahabatnya itu, akhirnya Arjuna yang sejak tadi diam bermain game PSP, mulai berbicara.
“Bagaimana kalo kita pergi ke vila gue di Puncak..?” Arjuna menatap bergantian ke wajah kedua sahabatnya.
“Gue bisa minta izin pada bokap nyokap gue agar kita bisa memakainya dua hari. Vila itu memang sudah agak jarang kami datangi, tapi di sana ada mang Kuncung yang memeliharanya..! Gimana, mau engga..?” Tanya Arjuna meminta kepastian dari kedua sahabatnya.
“Ayoooo ajalah….!” Panji menyambutnya dengan penuh semangat” Udah sumpek nich…!” lanjutnya.
Rama yang nampak sudah agak mengantuk, hanya menganggukkan kepalanya pelan, ia setengah sadar. Ahirnya mereka sepakat akan berangkat di hari Kamis minggu depan.
Hari yang ditunggu-tunggu oleh ketiga sahabat tersebut pun tiba. Cuaca pada hari Kamis tampak cerah. Langit bersih, hingga warna birunya nampak sangat jelas. Sebuah mobil juga telah disiapkan untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Dengan riang mereka pun berpamitan dan melanjutkan jadwal liburan tersebut.
Sepanjang perjalanan mereka terus bersenda gurau tanpa henti. Lalu lintas juga lancar tanpa hambatan, sehingga perjalanan mereka makin nyaman dan ceria. Sebelum matahari semakin tinggi, mereka telah tiba di sebuah gerbang pintu besi besar berwarna hitam. Suara klakson mobil mereka terdengar setelah Arjuna beberapa kali menekan tombol klakson.
Tak lama kemudian pintu gerbang besi berwarna hitam itu perlahan terbuka. Seorang lelaki separuh baya tampak berusaha mendorong gerbang besi berwarna hitam itu sekuat tenaganya.
Setelah gerbang terbuka, tampaklah sebuah bangunan megah berwarna merah bata. Rumah bata merah itu semakin megah dengan adanya kolam renang di samping halamannya. Ruang tamunya juga sangat besar dengan sofa empuk berwarna coklat muda.
Setelah ketiganya masuk ke dalam vila, mereka langsung duduk nyaman di sofa sambil menikmati kesejukan udara pegunungan yang sangat berbeda dengan kondisi udara sehari-hari di kota.
Lelaki separuh baya yang tadi membukakan gerbang, kini masuk membawakan tiga cangkir teh jahe hangat.
“Mang Kuncung, apa kabar Mang..? Sapa Arjuna pada penjaga rumah yang telah bekerja selama lima tahun itu.
“Alhamdulillah baik-baik saja den…” sahut Mang Kuncung sambil membungkukkan badannya. Logatnya masih dipengaruhi logat Sunda.
“O iya Mang, kenalkan ini teman-teman gue…!” Arjuna mengarahkan tanganya ke arah teman-temannya.
“Ini Panji, dan ini Rama. Kami akan nginap di sini sampai lusa Mang…!”
Mang Kucung pun terlihat manggut-manggut.
“Kalo aden-aden perlu sesuatu, bisa panggil di ruang belakang…” kata Mang Kuncung dengan tersenyum tipis.
“Ruang tidur di lantai atas sudah Mamang siapkan.” lanjutnya.
“Oke Mang..” jawab Arjuna.
“Selamat istirahat, Sekarang mamang mau ke belakang dulu…!” ujar mang Kuncung, lalu beranjak pergi.
Setelah Mang Kucung pergi, segera ketiga sahabat itu menuju kamar tidur di lantai atas tersebut. Tiga buah kamar yang terletak di dalam satu lorong. Masing-masing kamar berukuran sekitar sepuluh kali dua belas meter dan setiap kamar memiliki kamar mandi di dalam.
Rama yang paling penakut memilih kamar pertama di lorong tersebut. Sementara Arjuna di kamar kedua. Adapun Panji di kamar yang ada di lorong paling belakang.
“Arjuna, kenapa kamar-kamar ini seperti rumah sakit ya…? Sepertinya serem.” tanya Rama yang mulai ke luar sifat penakutnya.
“Ah, dasaaaar penakut…!!!” Arjuna dan Panji serempak menimpali, kemudian cuek tanpa peduli pada rasa takut Rama.
“Mumpung matahari belum tenggelam, kita berenaaaaannngggg….!!! Arjuna dan Panji berteriak penuh semangat. Mereka berdua segera berlari menuju tangga, meninggalkan Rama yang penakut seorang diri.
“Wwwwwooooiii, tunggu.!” Rama terlihat panik. Arjuna dan Panji tak peduli, mereka tetap saja berlari.
“Aduch…tunggu donk, aku mesti ke toilet dulu nich, kebelet….!!!”
Tapi Arjuna dan Panji tetap saja terus menuruni anak tangga ke bawah menuju kolam berenang, sambil tertawa. Hal tersebut telah membuat Rama panik dan harus mengambil keputusan mendesak. Akhirnya, dengan terburu-buru Rama pergi ke toilet yang berada di kamarnya. Perasaannya tak menentu, antara rasa takut dan panik semakin membuat pikirannya benar-benar kalut. Semenit rasanya menjadi waktu yang lama sekali bagi Rama.
Di kamar mandi, ketika Rama hendak mencuci tangannya di wastafel berwarna biru itu, tiba-tiba ia merasakan ada angin dingin menerpa kuduknya. Rasa takut makin menggigit, membuat debar jantungnya berdetak semakin cepat.
Perlahan Rama memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, sehingga wajahnya kini menatap cermin yang ada di depannya. Dengan tangan yang mulai gemetar, segera ia hentikan aliran air di keran dan diambilnya handuk kecil untuk mengelap tangannya. Lalu seperti ada dorongan tertentu, kembali tatapan matanya seakan harus menatap cermin di depannya. Tiba-tiba, perlahan tapi pasti, cermin itu seperti dilapisi oleh uap putih yang mengaburkan kejernihan cermin tersebut.
Tanpa berpikir lebih lama lagi, Rama pun spontan berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan kamar mandi untuk menyusul sahabat-sahabatnya yang telah asyik berenang.
“Hanttuuuuuuuu…..!!!!!” Teriak Rama, suaranya membahana di dalam vila.
Arjuna dan Panji yang mendengar teriakan Rama segera keluar dari kolam renang dan berlari mengejar Rama yang berlarian tidak menentu itu. Akhirnya, Arjuna dan Panji berhasil mengejar dan menenangkan Rama.
“Ah, pasti itu cuma khayalan elo…!” hardik Panji
“Makanya jadi orang jangan penakut…!” Panji pun terlihat gemas melihat kelakuan Rama.
“Ah…vila gue ini dari dulu gak ada apa apa koq…!” Timpal Arjuna
“Yuuukk, sekarang kita semua ke kamar elo.!” Ajak Arjuna sambil menarik tangan Rama dengan agak memaksa.
Sesaat kemudian,
“Krrrreeeeeeeetttt…!!!” Panji membuka pintu kamar mandi itu dengan tak gentar.
Sementara Rama ngumpet di belakang Arjuna dan mencengkram kencang pundak Arjuna.
Ternyata suasana kamar mandi itu biasa saja. Namun tetap hal ini tak membuat Rama jadi teryakinkan. Panji dan Arjuna hanya bisa menghela nafas panjang melihat sikap sahabatnya itu. Ada rasa sebal melihat sifat penakut Rama yang over dosis, tapi ada rasa kasihan dan geli juga melihatnya.
“Pleaseeee donkkk, gue beneran ngerasa ada yang aneh di kamar gue…!” Rama berusaha mengiba.
“Gue udah capek dan ngantukk..!” Gue sekarang mau tidur aja ah, gak jadi renang.!” Panji pun pergi begitu saja.
“Panjiiiii…, elo tuch emang paling tega ama gue ya…!” rengek Rama memelas. Tetapi tak digubris oleh Panji.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Arjuna sebagai tuan rumah mengizinkan Rama tidur di kamarnya.
“Awas..ya, kalo elo ngorokkk…!” Ledek Arjuna ke Rama yang amat penakut itu.
Malam itu berlalu dengan tenang. Tidak ada kejadian aneh. Akhirnya pagi pun menjelang. Matahari telah tinggi. Ketiga sahabat itu baru mulai terbangun. Mereka bertiga segera menuju ruang makan di lantai bawah. Di sana telah tersaji tiga cangkir teh hangat beserta nasi goreng lengkap dengan telur ceplok dan krupuk sebagai padanannya.
Di balik jendela besar yang menghadap ke arah kolam renang, nampak Mang Kuncung tengah membersihkan teras rumah. Dengan tubuh yang mulai membungkuk dan langkah yang terseok-seok, mang Kuncung menyapu teras tersebut pelan-pelan.
“Haaaaahhhh….!!!” Panji berteriak keras di dekat daun telinga Rama dan telah membuat Rama spontan melompat terkejut setelah ditakut-takuti.
“Sialan elo.!” Rama mengelus dadanya, karena sangat kaget.
“Mana hantunya…??” Dasar, anak super penakut..!” ledek Panji sambil menahan tawa. Arjuna juga sempat ingin meluapkan tawanya, tapi masih bisa ia tahan.
“Sudah-sudah, gue mau mandi dulu ah…! Setelah kita mandi, kita jalan-jalan.” Jelas Arjuna dengan santai.
“Eh, ini Rama juga minta di mandiin! Hahaha…” celoteh Panji sambil berlalu, derai tawanya terdengar amat nyaring.
Rama yang tetap tidak berani kembali ke kamarnya, akhirnya harus menanti di kamar Arjuna. Tak lama pintu kamar mandi terbuka.
“Sana mandi…!” kata Panji.
“Abis ini kita mau jalan-jalan…!” Arjuna menegaskan lagi.
“Tapi elo tetep di kamar kan…?” kembali Rama merengek seperti anak kecil.
“Iya, gua tetep di kamar…!” sahut Arjuna.
Akhirnya Rama pun masuk ke kamar mandi. Sementara Arjuna mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Dari dalam kamar mandi sudah terdengar kucuran air yang sedang ditampung di dalam ember. Segera Arjuna pun mencolokkan kabel hair dryer-nya.
Arjuna asyik menata rambutnya. Tiba-tiba Arjuna merasa sedikit rasa aneh. Rasa aneh yang membuatnya membalikkan tubuh. Pandangannya mengitari seluruh ruangan kamarnya. Namun tak ada apa-apa di kamar itu.
“Ahh…gue sudah tertular oleh virus Rama..!” ujar Arjuna dlm hati. Lalu Arjuna pun melanjutkan menata rambutnya.
Di dalam kamar mandi, Rama rupanya hendak buang hajat terlebih dulu. Dirinya sedikit merasa tenang, karena ia mendengar suara hair dryer yang menandakan bahwa di balik pintu kamar mandi ini ada orang lain selain dirinya. Rama bergegas mengambil sebuah majalah yang tak jauh tergeletak di dekat closet. Dirinya mulai merasa santai. Rama terus membaca majalah itu, hingga tanpa disadarinya, suasana kamar mandi terasa menjadi dingin. Suara hair dryer Arjuna pun tidak terdengar lagi.
Tiba-tiba terasa ada seperti hembusan angin di kuduknya. Awalnya Rama belum menyadarinya. Lalu ada hembusan angin yang lebih dingin dan lebih keras lagi di kuduknya. Kali ini Rama tersentak.. Dirinya hendak berteriak, namun rasa gugup telah menyulitkannya untuk berkata-kata apalagi berteriak. Dalam keadaan panik, segera Rama membersihkan diri seadanya, dan ketika itulah tiba-tiba seperti ada kepulan asap rokok yang sengaja dihembuskan dari arah samping kanan persis ke wajahnya.
Wajah Rama langsung berubah menjadi pucat pasi, jantungnya berdetak cepat. Tanpa pikir panjang, Rama berdiri dan berlari sekencang-kencang keluar dari kamar mandi. Dirinya sudah tidak memperdulikan lagi bahwa resleting celananya belum terpasang dengan benar.
Pintu kamar mandi terbuka, dilihatnya Arjuna sudah tertidur lagi. Segera di guncang-guncangkan tubuh Arjuna.
“Arjuna…!!!” jerit tertahan Rama
“Arjunaaaaaa…!!!” Kali ini Rama berkata dengan suara yang lebih kencang lagi.
Arjuna kaget dan bangun seketika.
“Apa-apaan sich…?!” Arjuna menggerutu sambil melihat heran pada Rama.
“Elo masih belom mandi juga…?!” tanya Arjuna.
Tapi Rama tak langsung menjawab.
“Ada apa lagi sich….???” Arjuna mulai sedikit kesel.
Dengan gemetar, Rama menceritakan kejadian yang baru dialaminya.
“Ah, gue tadi mandi, gak ada apa-apa…!” sahut Arjuna sambil melangkah ke arah kamar mandi.
“Tuch, gak ada apa-apa kan?” Arjuna pun membuka lebar-lebar pintu kamar mandi itu
“Gila lo ya…, Elo tuch masih bau…!” ketus Arjuna sambil memandang jengkel pada Rama. Rama tak peduli dirinya diperhatikan. Ia justru sibuk mengamati kembali keadaan di kamar mandi karena masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Udah sana mandi…!” Gua tunggu di depan pintu dech..!” perintah Arjuna.
Dengan penuh keraguan Rama melangkahkan kakinya, menapakkan kaki di lantai kamar mandi yang dingin itu. Pintu kamar mandipun tak berani ditutupnya rapat-rapat. Guyuran demi guyuran air terdengar sangat terburu-buru. Akhirnya segalanya usai. Disambarnya handuk dan segera Rama mengenakan pakaiannya, lalu berhambur menuju pintu.
Arjuna yang sedari tadi menunggu di luar kamar mandi menatap tajam ke arah Rama, dan bertanya,
“Ga ada apa-apa kan..?”
“Tapi sumpah, tiba-tiba tadi ada asap yang seperti sengaja disemburkan ke wajah gue..!” raut wajah Rama nampak sangat ketakutan. Sehingga Arjuna tidak melanjutkan pembicaraan tersebut.
Sementara itu, Panji yang tidak tahu apa yang terjadi ternyata telah siap di ruang tamu, menanti kedua sahabatnya. Akhirnya, mereka bertiga berangkat menuju kebun teh yang hijau dan menyegarkan. Perjalanan menjelajah kebun teh benar-benar mereka nikmati. Menikmati indahnya pemandangan sambil makan jagung manis bakar yang segar. Dan menikmati aneka warung rakyat yang menyediakan aneka panganan asal daerah itu.
Beberapa saat berlalu, hingga tak terasa matahari telah bergeser menjelang sore hari. Akhirnya ketiga sahabat itu memutuskan kembali ke Vila Merah Bata. Setelah beristirahat sejenak di kamar, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga yang luas, menikmati malam terakhir di Vila Merah Bata.
Menu pisang manis yang digoreng dengan taburan keju dan kopi hangat, telah tersaji dan menjadi panganan yang cocok untuk dinikmati sore itu. Barulah Arjuna menceritakan kepada Panji mengenai kejadian di kamar mandi pada pagi harinya.
“Ah, elo cuma terlalu tegang, bisa jadi elo cuma berhalusinasi kan..!?” kata Panji sambil menepuk pundak Rama.
“Tapi ini bener, kepulan asap itu benar-benar disemburkan di wajah gue..!” Rama menjelaskan dengan suara yang kembali terdengar gemetar.
“Tapi sejak kita sampai, kenapa cuma elo aja yang diganggu oleh asap-asap itu..?” Panji tetap tak percaya.
“Gue dan Arjuna engga kan..? senyum simpul Panji kali ini terlihat sangat menjengkelkan di mata Rama.
“Ah…sudahlah, ga usah dibahas…!” Rama pun merajuk. Mereka kembali menikmati hidangan yang tersaji.
Tak lama kemudian malam menjelang. Masing-masing kini telah memasuki kamar tidurnya. Rama dan Arjuna tetap sekamar di kamar kedua yang berada di lorong rumah itu. Sedangkan Panji tetap di kamar yang paling belakang.
“Panji emang gila..!” Rama terdengar gusar
“Lho kenapa…?” tanya Arjuna dengan wajah bingung.
“Bukannya pindah ke kamar di depan lorong, tapi masih aja nekat di kamar yang paling belakang itu…!”
“Ihhh…sereeeemmm…!!!” lanjut Rama
“Ngaco loe…!” ketus Arjuna
“Keluarga gue tuch udah dari dulu menempati vila ini tapi ga ada kejadian apa-apa, tau…! Jangan gossip ah…! Ayooo tidur…!” Arjuna kesel.
Rama diam saja.
“Kalo berisik, elo pindah sana ke kamar depan…!” Arjuna setengah ngeledek pada Rama
Tanpa panjang lebar lagi Rama dan Arjuna pun terlelap dalam mimpi. Sementara Panji kali ini agak kesulitan memejamkan matanya. Hingga pukul 24.00 dirinya belum juga bisa tertidur. Setelah berjuang melelapkan dirinya untuk bisa tertidur, akhirnya matanya mulai terasa berat. Makin berat, dan akhirnya tertidur.
Panji berusaha menarik selimutnya. karena dirinya merasakan dingin yang menggigit. Namun, selimut itu terasa tak kunjung berhasil ditariknya. Hingga akhirnya Panji membuka matanya. Tubuhnya tiba-tiba menjadi dingin dan kaku. Sulit digerakkan, serasa ada sesuatu beban yang menindihnya. Matanya nanar menatap ke arah daun pintu kamarnya. Rasa kantuknya kini telah lenyap, berganti dengan sebuah perasaan takut yang luar biasa.
Di daun pintu itu, telah berdiri seseorang dengan mengenakan baju putih dan sebuah sarung diselempangkan di pundaknya. Sebuah kopiah tua bertengger di atas kepala orang itu. Ia menatap dengan tatapan yang dingin dan amat menakutkan. Wajah lelaki itu amat pucat. Ia hanya berdiri kaku tak bergerak, namun menatap dengan sorot mata yang amat sulit dilupakan seumur hidup Panji.
Panji mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk memastikan bahwa dirinya sedang tidak bermimpi. Perlahan kesadarannya makin pulih. Maka Panji makin meronta-ronta. Namun dirinya tak sanggup melawan sebuah energi yang sepertinya menindih tubuhnya. Mulutnya berusaha berteriak, namun tiada suara yang bisa keluar dari kerongkongannya. Akhirnya, Panji hanya sanggup memejamkan kedua bola matanya sambil memanjatkan doa pada Tuhan.
Dengan sisa-sisa keberanian yang tertinggal, Panji berusaha membuka matanya. Ia kembali mencoba melirik ke arah sudut daun pintu di mana mahluk tadi berdiri kaku. Dilihatnya, mahluk itu bergerak perlahan menuju arah pintu. Barulah disadari oleh Panji bahwa mahluk itu tak berkaki. Keringat dingin makin membanjiri seluruh tubuh, kening dan kedua telapaknya. Ketakutannya kini memuncak sudah. Panji kembali meronta-ronta. Desah napasnya kian tak menentu. Namun tetap saja dirinya tak mampu bergerak dan tiada suara yang sanggup keluar dari kerongkongannya.
Sementara itu, di kamar lain, Arjuna dan Rama terbangun dan kebingungan karena mendengar lenguhan-lenguhan suara yang mirip Panji. Suara itu makin lama makin tak beraturan. Arjuna menatap arah jam dinding di kamar. Arah jarum jam menunjukkan ke angka 4.30. Sudah menjelang waktunya Subuh.
“Arjuna, elo dengar ga..?” tanya Rama penasaran dan sedikit takut.
“Iya, gue dengar..!” sahut Arjuna penasaran.
“Gue mau lihat.!” Arjuna segera berhambur ke luar kamar.
“Wooooii..!! Tunggu…!!!” Rama segera menyusul.
Setelah mereka berdua bertatapan satu sama lain, Arjuna dan Rama mendorong pintu kamar Panji. Mereka melihat sahabatnya tengah meronta-ronta tidak jelas penyebabnya. Mata Panji tetap tertutup, tapi tubuhnya berkeringat sebesar biji kacang. Mulutnya seperti mengucapkan sesuatu yang mirip seperti orang yang tengah mengerang. Tubuh Panji segera diguncang-guncangkan oleh Arjuna, sambil berkata.
“Bangun…!!”
“Panji…Panji…Bangunnn…!!!” Teriak Arjuna.
Lalu tampaklah Panji mulai membuka matanya. Tubuhnya gemetar dasyat. Matanya langsung mengarah ke arah daun pintu. Arjuna dan Rama mengikuti arah mata Panji dengan penuh keheranan
“Ada apa..?” tanya Arjuna
“Elo liat ga, mahluk yang tadi berdiri di sana…?” tanya Panji panik
“Engga. Di sana gak ada apa-apa…!” hampir bersamaan Arjuna dan Rama menyahut.
“Mungkin tadi elo cuma mimpi buruk!” Arjuna berusaha menenangkan hati Panji
“Udah azan tuch…, yuuuk sholat…!” Ajak Arjuna lebih lanjut.
Seusai sholat, ketiga sahabat itu berkumpul di ruang keluarga. Panji terlihat lebih diam daripada biasanya. Pikirannya melayang. Dirinya masih bertanya-tanya, apakah benar kejadian yang baru dialaminya hanyalah sekedar mimpi buruk semata. Sungguh masih ada rasa penasaran di dalam hatinya. Namun tiada jawaban pasti yang bisa memuaskannya. Dirinya kembali terdiam menatap langit-langit putih vila berbata merah.
Setelah ketiga sahabat ini menikamati sarapan pagi, mereka sepakat untuk segera kembali saja ke kota. Mereka pun berkemas dan berpamitan pada Mang Kuncung.
“Hati-hati di jalan ya Den..!” Demikian salam perpisahan lirih yang diucapkan Mang Kuncung.
Ketika mobil Arjuna telah jauh dari pandangan Mang Kuncung, ia segera menutup pintu gerbang besi besar berwarna hitam itu. Dirinya berjalan dengan tubuh bungkuknya menuju kamarnya, yang berada di bagian paling belakang vila.
Sesampainya di kamar itu, segera saja Mang Kuncung membuka sebuah lemari kecil. Dari dalam lemari kecil itu dikeluarkannya beberapa barang yang amat janggal untuk dipakai oleh seseorang pada umumnya. Asap dupa pun dinyalakan. Suasana makin mistis, setelah aroma dupa tercium dan dari mulut Mang Kuncung terdengar bahasa yang aneh.
Mata Mang Kuncung pun terpejam. Suara-suara yang keluar dari mulut Mang Kuncung makin keras dan membuat suasana mistis itu berubah menjadi suasana yang mulai menakutkan.
Tiba-tiba, mata Mang Kuncung terbuka dan ada sesuatu yang berubah. Sorot mata tua Mang Kuncung, kini berubah menjadi sorot mata sosok yang sempat dilihat oleh Panji, yaitu sorot mata yang dingin dan menakutkan.
Ya…ternyata Mang Kuncung yang telah menua dan berjalan bungkuk itu adalah seseorang yang sedang mempelajari sebuah ilmu hitam, dan vila ini dirasakannya cocok sebagai tempatnya bersembunyi. Oleh karena itu dirinya akan berusaha mengusir semua tamu yang hendak menginap. Karena kini dirinyalah sang penguasa Vila Berbata Merah itu! Termasuk mengusir Pemilik aslinya..!!!
THE END

DIBURU BAYANG-BAYANG

Ify Alyssa berjalan melewati koridor sekolahnya, dadanya terasa sesak, saat ini ia tak dapat mengatur napasnya. Bisa ia rasakan jantungnya berdentum-dentum memukul iganya. Terlihat jelas pelipisnya mengeluarkan keringat bercucuran. Entah sadar atau tidak, sedari tadi ada seseorang yang mengikutinya.
“Tenang, Fy!” Perintahnya pada dirinya sendiri, berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal. “Gak ada yang perlu lo takutin. Ini sekolah jadi, gak ada yang berani macam-macam.”

Ragu-ragu ia mencoba menoleh ke belakang tapi, bayangan hitam itu dengan cepat bersembunyi dibalik tembok, Ify dapat melihat itu walau samar-samar. Ify mulai berjalan lagi, membiarkan orang tak dikenalnya itu mengikutinya. Ia berbelok menuju ruang kelasnya, setidaknya disana ia merasa aman, karena ada banyak anak lain.
“Ayo, orang sinting, apakah kau berani mengikutiku sekarang,” Gumamnya. Ia berjalan dengan cepat. Bayangan hitam itu juga melakukan hal yang sama. Ify tak menyangka orang itu masih berani mengikuti dirinya. Napasnya mulai tak beraturan, jantungnya berdegup kencang, pelipisnya mulai berkeringat dingin lagi.
Pelan-pelan Ify menambahkan kecepatan berjalannya, matanya terpaku pada ruang kelas yang hanya berjarak beberapa meter lagi. Bayangan hitam itu mulai mendekat kearah Ify. Ify mendorong kursi yang sempat menghalangi jalannya dan langsung berlari menuju pintu ruang kelas, lalu membukanya.
Suasana ruang kelas yang semula ramai perlahan berubah menjadi hening, semua mata kini tertuju pada Ify yang menyender pada pintu sambil mengatur napasnya. Ify membuka sedikit pintu sekedar untuk memastikan orang itu masih mengikutinya atau tidak. Dadanya terasa lega, ia menghembuskan napasnya. Orang itu tak lagi mengikutinya.
Ify mengarahkan pandangannya ke depan, ia mengerjap kaget ketika melihat semua mata tertuju padanya. “Kenapa ngelihatin gue kayak gitu?” tanyanya berusaha normal ya, berusaha menjadi normal kembali.
***
Ify berjalan menuju kantin, berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. Ify menatap wajah-wajah yang menurutnya mencurigakan tapi, tak mungkin temannya sendiri akan membunuhnya. Mungkin, bisa saja mengingat dirinya sekarang ‘berbahaya’ bagi sebagian orang. Tatapan Ify terhenti ketika melihat Ashilla, dari informasi yang didengar dari temannya, sepanjang musim panas, Ashilla terus menempel pada Gabriel –kekasihnya dulu- Tapi, Gabriel tak pernah mengucapkan kata putus pada Ify.

Dan sekarang Ify tak lagi ingin mengingat-ingat Gabriel, itu masa lalu. Dan kemungkinan besar cowok itu tak akan mau mendekatinya lagi karena menurutnya, Ify ‘berbahaya’. Tapi, sekarang Ify ingin membuat tatapan sinis yang menuju padanya hilang, ia tak ingin terus ditatap seperti itu, seolah-olah semua orang mengawasinya, takut kejadian musim panas tahun lalu terjadi lagi.
Ify terus berjalan menyusuri lorong nyaris bertubrukan dengan cowok di depannya. “Maaf.” Ujar Ify. Cowok itu berbalik menghadapnya.

Mario Stevano. Ify mengerjap. Cowok yang dulu Ify anggap ‘aneh’ sekarang berubah menjadi cowok keren. “Eh… Ify, apa kabar?”
“Baik,” gumam Ify, matanya masih menatap Rio. Ia benar-benar tak menyangka, setahun tidak sekolah ternyata begitu banyak perubahan, termasuk, Rio. Setahun yang lalu, Ify sempat mengamuk di kantin, entah karena apa, ia sendiri pun tak tahu. Yang pasti, semua orang tak dapat menenangkannya kecuali, neneknya, hanya neneknya yang dapat menenangkannya. Menurutnya, neneknya tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi, neneknya tak mau memberitahukannya. Dan sekarang, ia ingin mencari tahu tapi, itu tak mungkin dilakukannya sendiri. Ia butuh bantuan orang lain.

Ify tersadar dari lamunannya. Ia mulai berjalan lagi tapi, langkahnya tertahan karena, Rio menahan langkahnya. “Kenapa lagi?” Rio mencondongkan badannya kearah Ify.
“Apa gue bisa bantu mecahin masalah lo?” bisiknya tepat ditelinga Ify. Ify menegakkan badannya, tak percaya Rio membisikkan bantuan padanya. Perlahan Ify menggelengkan kepalanya. “Mungkin, lain kali.” Ify berjalan terus, tak ingin berlama-lama. Entah kenapa ia merasa sedikit canggung berada didekat cowok itu.
Ketika sampai di pintu kantin, Ify membukanya dengan ragu. Sebenarnya ia takut masuk ke dalam kantin. Takut, yang terjadi padanya tahun lalu terulang lagi, sangat takut. Ia tak mau dikurung di pafiliun lagi seperti tahun lalu, ia dipasung agar tidak memberontak. Dan itu mengerikan untuk diingat. Jadi, ia putuskan untuk saat ini akan melupakan kejadian mengerikan itu, di kantin ini. Jika ia bisa.

Perlahan Ify berjalan menuju mesin es yogurt. Ia bisa merasakan sejak tadi semua mata tertuju padanya. Ia hanya bisa menghela napas berat. Kapan semua ini bisa berhenti, ia tak mau ditatap seperti itu terus sepanjang hari.
Ify menyapu pandangannya, mencari meja kantin yang masih tersisa untuknya. Setidaknya, ada yang mau mengajaknya duduk.
Dari ujung matanya ia dapat melihat dengan jelas, Rio melambaikan tangan padanya, tepatnya menyuruhnya duduk di dekat cowok itu. Sebelum benar-benar melangkah, Ify memicingkan matanya pada tempat yang diduduki Rio, ‘meja’ itu, dimana pada saat Ify mengamuk di meja itu.

Dengan langkah yang tersa berat, Ify melangkah kearah meja itu, berharap tidak akan terjadi apa-apa saat ia duduk disana.
“Hai, Fy….” Sapa Rio ramah. “…. Lo gak gak takut kan, duduk dimeja ini.” Ify menggeleng ragu.
‘Apa maksudnya dengan ngomong kayak gitu? Pikirnya curiga.
“Semenjak kejadian itu-----” “Gak ada lagi yang mau duduk dimeja ini, kecuali gue.” Rio menyelesaikan kalimatnya, suaranya terdengar bersahabat. Ify tahu, Rio sebenarnya takut mengingat kejadian tahun lalu.

Ify berusaha mempertahakan senyumnya. Ia duduk dihadapan Rio. “Kenapa?” tanya Ify.
“Gak tahu.” Jawab Rio, mengangkat kedua bahunya. Ify tersenyum canggung. Kenapa dia harus sekeren ini, sih? Ify merasa ada yang aneh pada diri Rio, apa dia menyembunyikan rasa takutnya atau memang dia sesantai ini kalau sedang menghadapi cewek ‘gila’. Apa yang dipikirkan Ify, cepat-cepat ia membuang rasa curiganya.
“Ngomong-ngomong, sejak kapan lo berubah penampilan?” tanya Ify, ia berusaha untuk tidak terlihat canggung. Tapi, setidaknya itu usaha yang bisa ia lakukan sekarang.
“Sejak Angel memaki gue…” jawab Rio, mengaduk-ngaduk es yogurt-nya. “….Pas gue lagi ngedeketin dia.” Ify ingat, saat itu Rio sedang mendekati Angel tapi, Angel malah memakinya dan membuat Rio seperti orang bodoh, dan itu sudah satu tahun yang lalu. Tentu sebelum Rio, sekeren seperti sekarang ini.
Ify bisa membayangkan jika dia menjadi Rio, mungkin ia tidak akan pernah masuk sekolah karena, sudah dipermalukan seperti itu. Membayangkannya saja sudah membuat Ify merasa aneh. Ya, seperti orang asing yang perlu ditendang dari sekolah elite ini. Tapi, bukankah sekarang Ify merasa hal yang sama seperti Rio dulu? Hidup kadang memang tak adil.

Dulu ia mempunyai banyak teman, Sivia, Alvin, Zevana, Oik, Cakka, dan semua teman lama Ify. Tapi, tidak untuk sekarang, mereka semua menghilang begitu saja. Apakah itu teman? Dan sekarang siapa yang akan menjadi teman Ify. Rio? Mungkinkah ia mau berteman dengan Ify? Cewek yang sudah dianggap ‘gila’ oleh semua orang yang berada di sekolah ini.
“Sekarang kita berteman?” Rio menjulurkan tangannya pada Ify. Ify menatap uluran tangan Rio ragu lalu menjabatnya.
“Teman.” Gumamnya.
***

Ponsel Ify berdering. Tanpa mengangkat kepala dari bantalnya, ia mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel dari dalam lacinya.
“Halo….”
“Lo akan mati, Fy…”

Ify langsung terjaga, jantungnya berdentum keras. Seseorang telah mengancamnya. Orang yang tidak dikenalnya. Suara orang itu terdengar serak dan juga sangat mengancam. Suara itu bukan milik neneknya. Bukan milik Rio. Ataupun suara temannya yang lain.
‘Tenang, Fy,’ batin Ify. ‘Kemarin ada orang yang ngikutin gue. Dan sekarang ada orang yang ngancam gue.’

Ify berdiri dari atas tempat tidurnya, berjalan perlahan menyusuri kamarnya. Napasnya benar-benar tak teratur, seperti ingin meraup oksigen yang lebih dari luar sana.
“Siapa yang mau ngebunuh gue!?” tiba-tiba Ify memekik keras. “Siapa!!!!????”

Seorang perempuan tua sedang mengintipnya dari sela-sela pintu kamar Ify yang sedikit terbuka dan menangkap bahu Ify. Mengguncangnya.
“Ify!” seru perempuan tua itu. Suara itu… seperti neneknya.

Ify membuka mata, dan melihat neneknya membungkuk di atas tubuhnya. Ify duduk, melepaskan diri dari pegangan neneknya
‘Itu hanya mimpi,’ Ify mulai sadar.
“Maaf. Apa jeritanku terdengar sangat nyata?” tanya Ify, ia berusaha mengatur napasnya agar terdengar baik-baik saja.
“Iya.” Jawab neneknya. “Tenanglah. Dia sudah pergi.” Neneknya mengusap lembut rambut Ify yang hitam bergelombang. Sesaat Ify merasa bingung ‘Dia? Siapa yang dimaksud nenek?’
“Maksud nenek, ‘dia’ siapa?” tanya Ify memberanikan diri. Ia berharap neneknya mau menceritakannya. Tapi, gelengan yang didapatnya. Sepertinya, neneknya tidak ingin menjelaskannya apapun untuk saat ini.
“Bukan siapa-siapa…..” sahut neneknya. “Mau nenek ambilkan minum?” Ify menggeleng. ia benar-benar berusaha terlihat sangat normal agar neneknya tak lagi mencemaskan dirinya. Dan siapapun tidak ingin dikurung dalam pafiliun dan dipasung, termasuk Ify. Dia juga tidak ingin mengamuk diluar keinginannya.
Neneknya keluar pintu. Ify menghembuskan napasnya yang terasa sangat berat.
‘Hanya mimpi’ batin Ify. Memang itu hanya mimpi tapi, mimpi itu terasa sangat nyata. Jelas mimpi itu ada kaitannya dengan dunia nyata yang saat ini ia alami. Seseorang diluar sana menginginkan kematiannya. Tapi… siapa? Ia tidak tahu orangnya. Dan Ify tidak tahu kapan orang itu akan mencoba membunuhnya lagi.

Nenek Ify masuk sambil membawa air dan menyodorkan gelas itu ke tangan cucunya.
“Terima kasih, nek.” Ujar Ify berterima kasih. Neneknya hanya tersenyum, ia masih berharap neneknya mau menceritakan tentang apa yang sudah terjadi pada dirinya. Ia merasa sangat takut, tulang belakangnya seperti mati rasa. Nenek Ify memandang cucunya cemas.
“Aku baik-baik saja.” Ujar Ify, berharap neneknya mempercayainya, neneknya hanya tersenyum.
***

Baiklah, ini adalah waktu yang tepat Ify Alyssa, kau akan mati sesegera juga.
Cuaca di pagi ini sangat cerah.Tapi, tidak dengan Ify, gadis itu tercenung sejak perjalanannya ke sekolah tadi. Sedari tadi Ify hanya berpijak didepan gerbang sekolahnya, anak-anak yang melewatinya hanya berdecak kesal melihatnya. Sedari tadi ia hanya menatap gedung sekolahnya.

Bayang-bayang hitam itu bergerak secepat kilat melewatinya. Matanya mengerjap kaget, jantungnya berdentum-dentum keras memukul iganya, lututnya terasa lemas, keringat dinginnya bercucuran, napasnya tersengal-sengal.
“Siapa lo! keluar!” teriaknya keras, ia mencoba mengatur napasnya. “Hhhhf… Lo pikir gue takut!???”
Bayangan hitam itu terlihat menyeringai lebar tepat dibalik punggung Ify. Ify menarik napas berat, ada sesuatu yang merasuki dirinya. Bayang hitam itu.
Ify dapat merasakan emosi-emosi yang merasuki dirinya. kebencian, dendam, amarah yang sangat memuncak. Matanya tersirat kebencian yang mendalam, matanya berkilat merah. Ia tersenyum sinis.
Langit yang semulanya cerah mendadak berubah menjadi hitam.

Nenek Ify memandang langit yang tak biasanya dari jendela kamarnya. “Dia kembali.” Nenek Ify bergegas berlari keluar rumah.
“Ada apa nyonya? Kenapa lari-lari?” tanya Pak Karjo-supirnya-
“Kita ke sekolah Ify sekarang. Dia sudah kembali.” Pak Karjo terbelalak.
“Baik nyonya.”

Ify menyeringai lebar, tangannya mengepal. Ia berjalan menghentak menuju kantin. Anak-anak yang dilewatinya berbisik-bisik curiga. “Ify gila lagi, ya?”

Ify membuka pintu kantin dengan kasar membuat engsel pintu kantin tersebut lepas dari tempatnya. Disebuah meja yang dulu pernah membuat Ify dianggap ‘gila’ terdapat sesosok bayangan putih samar. Ibunya.
“Inilah hal yang kutunggu-tunggu setelah sekian lamanya.” Ujar Ify sinis, menatap remeh kearah bayangan putih itu.
“Lepaskan anakku! Banyangan putih itu berseru. “Dia tidak bersalah!!.” Ify menyeringai.
“Tidak akan.” Balasnya sengit. “Kaulah yang sudah membuat hidupku kacau! Dan aku! Tidak akan membiarkan keturunan Alyssa hidup!” Ify mengambil sebilah pisau di meja terdekatnya.
“Kau lihat! aku akan membunuh anakmu!” Ify mengarahkan pisau tersebut tepat didepan dada kiri. “Sama seperti kau membunuhku di meja itu!!” Jari telunjuk Ify mengarah pada meja yang pernah membuat jiwa Ify terguncang.

Bayangan putih itu mendekat kearah Ify. “Aku mohon jangan!” cegahnya. Ify hampir menghunus pisau itu ke jantungnya kalau saja nenek Ify tidak datang mencegahnya.
“Zahra! Cukup!” seru nenek Ify dari pintu kantin. Ify berbalik. “Dendammu telah selesai. Jatuhkan pisau itu!” Ify menatap pisau ditangannya ragu.
“Tidak!” serunya. “Aku akan membunuhnya!!”
“Zahra, cukup. Dendammu telah selesai, kembalilah keasalmu.” Sergah nenek Ify. Nenek Ify menoleh kearah pak Karjo dibelakangnya. “Cepat bakar meja itu!” perintahnya. Pak Karjo mengangguk lalu berlari kearah meja itu, menyiramnya dengan minyak tanah.
“Jangan!” cegah Ify sebelum benar-benar pak Karjo membakar meja tersebut. “Jangan bakar mej…”
“Cepat!” teriak nenek Ify. Pak Karjo langsung membakar meja tersebut. Dengan cepat api melalap meja Itu. Sedang Ify mengerang kesakitan. Bayangan putih itu perlahan menghilang dengan sendirinya.
“Nenek cukup! Padamkan api itu! Panas!” erang Ify kesakitan, ia terjatuh ke lantai. Sampai akhirnya ia tak sadarkan diri.
***

Ify duduk di atas kursi roda, matanya tak jelas tertuju kearah mana, kepalanya ia miringkan. Jiwanya saat ini benar-benar terguncang. Rio duduk disisi kiri Ify.
“Fy, semua udah berakhir….” Lirihnya. “Kembalilah seperti dulu, Ify yang periang.” Ify hanya diam tak menanggapinya. Rio menatap Ify miris, ia melangkahkan kakinya untuk pergi dari sisi Ify.
“Udah berakhir…” gumam Ify. Langkah Rio terhenti, ia berbalik meloncat dan langsung memeluk Ify. “Udah berakhir.” Gumamnya lagi.

Mungkin bagi kau dan itu sudah berakhir. Tapi, bagiku permainan ini belum berakhir. Permainan kita akan terus berlanjut Ify Alyssa. Akan terus berlanjut, dendamku tak akan pernah akan hilang. Dendam itu akan selalu ku ingat.