Tiga orang bersahabat; Panji, Arjuna dan Rama merasa lega karena
akhirnya UN telah berhasil mereka lalui. Segala upaya telah mereka
lakukan untuk melewati rangkaian ujian-ujian sekolah, dan salah satu
yang terpenting yaitu belajar sungguh-sungguh. Sambil menanti pengumuman
hasil dari UN, ketiga orang bersahabat ini berencana untuk liburan.
Sore itu mereka bertemu di rumah Arjuna. Sebuah rumah yang megah, mewah, untuk mematangkan rencana liburannya.
“Bagaimana kalo kita pergi naik gunung…?!” Panji menyampaikan idenya dengan penuh semangat.
Rama yang sedang duduk santai bersandar di sofa, dekat Panji, langsung menyahut.
“Ah…malas…!” sahutnya sambil tetap duduk bersandar dan tetap memainkan handphone-nya
Sesaat kemudian Rama berhenti mengutak-atik handphonenya, lalu ia menegakkan duduknya.
“Gue ingin liburan santai, yang gak pake cape..” lanjut Rama
“Gimana kalo kita pergi berlibur ke Bali…?!” tanya Panji asal bunyi
sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk yang berada di dalam kamar
Arjuna. Kamar itu luas dan terasa sejuk oleh pendingin ruangan.
“Apa..? Emangnya ke Bali tiket pesawatnya bisa dibeli pake daun..!?
Pasti orang tua kita pun gak bakal mau mengeluarkan uang sebanyak itu…!”
Protes Rama dan melihat Panji dengan wajah serius.
Panji juga ikut melihat Rama tapi raut wajahnya tampak agak berpikir.
Dahinya sedikit berkerut, seakan sedang berpikir menghitung jumlah
biaya jika mereka harus ke Bali.
“Untuk biaya melanjutkan ke universitas aja, bokap gue benar-benar
kerja keras..!!!” lanjut Rama dan masih tetap sedikit mendengus dengan
sebal. Panji tetap masih diam belum menyahut, sepertinya ia terlihat
kesulitan juga untuk menghitung biaya jika mereka harus ke Bali.
Mendengar perdebatan kedua sahabatnya itu, akhirnya Arjuna yang sejak tadi diam bermain game PSP, mulai berbicara.
“Bagaimana kalo kita pergi ke vila gue di Puncak..?” Arjuna menatap bergantian ke wajah kedua sahabatnya.
“Gue bisa minta izin pada bokap nyokap gue agar kita bisa memakainya
dua hari. Vila itu memang sudah agak jarang kami datangi, tapi di sana
ada mang Kuncung yang memeliharanya..! Gimana, mau engga..?” Tanya
Arjuna meminta kepastian dari kedua sahabatnya.
“Ayoooo ajalah….!” Panji menyambutnya dengan penuh semangat” Udah sumpek nich…!” lanjutnya.
Rama yang nampak sudah agak mengantuk, hanya menganggukkan kepalanya
pelan, ia setengah sadar. Ahirnya mereka sepakat akan berangkat di hari
Kamis minggu depan.
Hari yang ditunggu-tunggu oleh ketiga sahabat tersebut pun tiba.
Cuaca pada hari Kamis tampak cerah. Langit bersih, hingga warna birunya
nampak sangat jelas. Sebuah mobil juga telah disiapkan untuk
mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Dengan riang mereka pun berpamitan
dan melanjutkan jadwal liburan tersebut.
Sepanjang perjalanan mereka terus bersenda gurau tanpa henti. Lalu
lintas juga lancar tanpa hambatan, sehingga perjalanan mereka makin
nyaman dan ceria. Sebelum matahari semakin tinggi, mereka telah tiba di
sebuah gerbang pintu besi besar berwarna hitam. Suara klakson mobil
mereka terdengar setelah Arjuna beberapa kali menekan tombol klakson.
Tak lama kemudian pintu gerbang besi berwarna hitam itu perlahan
terbuka. Seorang lelaki separuh baya tampak berusaha mendorong gerbang
besi berwarna hitam itu sekuat tenaganya.
Setelah gerbang terbuka, tampaklah sebuah bangunan megah berwarna
merah bata. Rumah bata merah itu semakin megah dengan adanya kolam
renang di samping halamannya. Ruang tamunya juga sangat besar dengan
sofa empuk berwarna coklat muda.
Setelah ketiganya masuk ke dalam vila, mereka langsung duduk nyaman
di sofa sambil menikmati kesejukan udara pegunungan yang sangat berbeda
dengan kondisi udara sehari-hari di kota.
Lelaki separuh baya yang tadi membukakan gerbang, kini masuk membawakan tiga cangkir teh jahe hangat.
“Mang Kuncung, apa kabar Mang..? Sapa Arjuna pada penjaga rumah yang telah bekerja selama lima tahun itu.
“Alhamdulillah baik-baik saja den…” sahut Mang Kuncung sambil membungkukkan badannya. Logatnya masih dipengaruhi logat Sunda.
“O iya Mang, kenalkan ini teman-teman gue…!” Arjuna mengarahkan tanganya ke arah teman-temannya.
“Ini Panji, dan ini Rama. Kami akan nginap di sini sampai lusa Mang…!”
Mang Kucung pun terlihat manggut-manggut.
“Kalo aden-aden perlu sesuatu, bisa panggil di ruang belakang…” kata Mang Kuncung dengan tersenyum tipis.
“Ruang tidur di lantai atas sudah Mamang siapkan.” lanjutnya.
“Oke Mang..” jawab Arjuna.
“Selamat istirahat, Sekarang mamang mau ke belakang dulu…!” ujar mang Kuncung, lalu beranjak pergi.
Setelah Mang Kucung pergi, segera ketiga sahabat itu menuju kamar
tidur di lantai atas tersebut. Tiga buah kamar yang terletak di dalam
satu lorong. Masing-masing kamar berukuran sekitar sepuluh kali dua
belas meter dan setiap kamar memiliki kamar mandi di dalam.
Rama yang paling penakut memilih kamar pertama di lorong tersebut.
Sementara Arjuna di kamar kedua. Adapun Panji di kamar yang ada di
lorong paling belakang.
“Arjuna, kenapa kamar-kamar ini seperti rumah sakit ya…? Sepertinya serem.” tanya Rama yang mulai ke luar sifat penakutnya.
“Ah, dasaaaar penakut…!!!” Arjuna dan Panji serempak menimpali, kemudian cuek tanpa peduli pada rasa takut Rama.
“Mumpung matahari belum tenggelam, kita berenaaaaannngggg….!!! Arjuna
dan Panji berteriak penuh semangat. Mereka berdua segera berlari menuju
tangga, meninggalkan Rama yang penakut seorang diri.
“Wwwwwooooiii, tunggu.!” Rama terlihat panik. Arjuna dan Panji tak peduli, mereka tetap saja berlari.
“Aduch…tunggu donk, aku mesti ke toilet dulu nich, kebelet….!!!”
Tapi Arjuna dan Panji tetap saja terus menuruni anak tangga ke bawah
menuju kolam berenang, sambil tertawa. Hal tersebut telah membuat Rama
panik dan harus mengambil keputusan mendesak. Akhirnya, dengan
terburu-buru Rama pergi ke toilet yang berada di kamarnya. Perasaannya
tak menentu, antara rasa takut dan panik semakin membuat pikirannya
benar-benar kalut. Semenit rasanya menjadi waktu yang lama sekali bagi
Rama.
Di kamar mandi, ketika Rama hendak mencuci tangannya di wastafel
berwarna biru itu, tiba-tiba ia merasakan ada angin dingin menerpa
kuduknya. Rasa takut makin menggigit, membuat debar jantungnya berdetak
semakin cepat.
Perlahan Rama memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, sehingga
wajahnya kini menatap cermin yang ada di depannya. Dengan tangan yang
mulai gemetar, segera ia hentikan aliran air di keran dan diambilnya
handuk kecil untuk mengelap tangannya. Lalu seperti ada dorongan
tertentu, kembali tatapan matanya seakan harus menatap cermin di
depannya. Tiba-tiba, perlahan tapi pasti, cermin itu seperti dilapisi
oleh uap putih yang mengaburkan kejernihan cermin tersebut.
Tanpa berpikir lebih lama lagi, Rama pun spontan berlari
sekencang-kencangnya, meninggalkan kamar mandi untuk menyusul
sahabat-sahabatnya yang telah asyik berenang.
“Hanttuuuuuuuu…..!!!!!” Teriak Rama, suaranya membahana di dalam vila.
Arjuna dan Panji yang mendengar teriakan Rama segera keluar dari
kolam renang dan berlari mengejar Rama yang berlarian tidak menentu itu.
Akhirnya, Arjuna dan Panji berhasil mengejar dan menenangkan Rama.
“Ah, pasti itu cuma khayalan elo…!” hardik Panji
“Makanya jadi orang jangan penakut…!” Panji pun terlihat gemas melihat kelakuan Rama.
“Ah…vila gue ini dari dulu gak ada apa apa koq…!” Timpal Arjuna
“Yuuukk, sekarang kita semua ke kamar elo.!” Ajak Arjuna sambil menarik tangan Rama dengan agak memaksa.
Sesaat kemudian,
“Krrrreeeeeeeetttt…!!!” Panji membuka pintu kamar mandi itu dengan tak gentar.
Sementara Rama ngumpet di belakang Arjuna dan mencengkram kencang pundak Arjuna.
Ternyata suasana kamar mandi itu biasa saja. Namun tetap hal ini tak
membuat Rama jadi teryakinkan. Panji dan Arjuna hanya bisa menghela
nafas panjang melihat sikap sahabatnya itu. Ada rasa sebal melihat sifat
penakut Rama yang over dosis, tapi ada rasa kasihan dan geli juga
melihatnya.
“Pleaseeee donkkk, gue beneran ngerasa ada yang aneh di kamar gue…!” Rama berusaha mengiba.
“Gue udah capek dan ngantukk..!” Gue sekarang mau tidur aja ah, gak jadi renang.!” Panji pun pergi begitu saja.
“Panjiiiii…, elo tuch emang paling tega ama gue ya…!” rengek Rama memelas. Tetapi tak digubris oleh Panji.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Arjuna sebagai tuan rumah mengizinkan Rama tidur di kamarnya.
“Awas..ya, kalo elo ngorokkk…!” Ledek Arjuna ke Rama yang amat penakut itu.
Malam itu berlalu dengan tenang. Tidak ada kejadian aneh. Akhirnya
pagi pun menjelang. Matahari telah tinggi. Ketiga sahabat itu baru mulai
terbangun. Mereka bertiga segera menuju ruang makan di lantai bawah. Di
sana telah tersaji tiga cangkir teh hangat beserta nasi goreng lengkap
dengan telur ceplok dan krupuk sebagai padanannya.
Di balik jendela besar yang menghadap ke arah kolam renang, nampak
Mang Kuncung tengah membersihkan teras rumah. Dengan tubuh yang mulai
membungkuk dan langkah yang terseok-seok, mang Kuncung menyapu teras
tersebut pelan-pelan.
“Haaaaahhhh….!!!” Panji berteriak keras di dekat daun telinga Rama
dan telah membuat Rama spontan melompat terkejut setelah ditakut-takuti.
“Sialan elo.!” Rama mengelus dadanya, karena sangat kaget.
“Mana hantunya…??” Dasar, anak super penakut..!” ledek Panji sambil
menahan tawa. Arjuna juga sempat ingin meluapkan tawanya, tapi masih
bisa ia tahan.
“Sudah-sudah, gue mau mandi dulu ah…! Setelah kita mandi, kita jalan-jalan.” Jelas Arjuna dengan santai.
“Eh, ini Rama juga minta di mandiin! Hahaha…” celoteh Panji sambil berlalu, derai tawanya terdengar amat nyaring.
Rama yang tetap tidak berani kembali ke kamarnya, akhirnya harus menanti di kamar Arjuna. Tak lama pintu kamar mandi terbuka.
“Sana mandi…!” kata Panji.
“Abis ini kita mau jalan-jalan…!” Arjuna menegaskan lagi.
“Tapi elo tetep di kamar kan…?” kembali Rama merengek seperti anak kecil.
“Iya, gua tetep di kamar…!” sahut Arjuna.
Akhirnya Rama pun masuk ke kamar mandi. Sementara Arjuna mengambil
hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Dari dalam kamar
mandi sudah terdengar kucuran air yang sedang ditampung di dalam ember.
Segera Arjuna pun mencolokkan kabel hair dryer-nya.
Arjuna asyik menata rambutnya. Tiba-tiba Arjuna merasa sedikit rasa
aneh. Rasa aneh yang membuatnya membalikkan tubuh. Pandangannya
mengitari seluruh ruangan kamarnya. Namun tak ada apa-apa di kamar itu.
“Ahh…gue sudah tertular oleh virus Rama..!” ujar Arjuna dlm hati. Lalu Arjuna pun melanjutkan menata rambutnya.
Di dalam kamar mandi, Rama rupanya hendak buang hajat terlebih dulu.
Dirinya sedikit merasa tenang, karena ia mendengar suara hair dryer yang
menandakan bahwa di balik pintu kamar mandi ini ada orang lain selain
dirinya. Rama bergegas mengambil sebuah majalah yang tak jauh tergeletak
di dekat closet. Dirinya mulai merasa santai. Rama terus membaca
majalah itu, hingga tanpa disadarinya, suasana kamar mandi terasa
menjadi dingin. Suara hair dryer Arjuna pun tidak terdengar lagi.
Tiba-tiba terasa ada seperti hembusan angin di kuduknya. Awalnya Rama
belum menyadarinya. Lalu ada hembusan angin yang lebih dingin dan lebih
keras lagi di kuduknya. Kali ini Rama tersentak.. Dirinya hendak
berteriak, namun rasa gugup telah menyulitkannya untuk berkata-kata
apalagi berteriak. Dalam keadaan panik, segera Rama membersihkan diri
seadanya, dan ketika itulah tiba-tiba seperti ada kepulan asap rokok
yang sengaja dihembuskan dari arah samping kanan persis ke wajahnya.
Wajah Rama langsung berubah menjadi pucat pasi, jantungnya berdetak
cepat. Tanpa pikir panjang, Rama berdiri dan berlari sekencang-kencang
keluar dari kamar mandi. Dirinya sudah tidak memperdulikan lagi bahwa
resleting celananya belum terpasang dengan benar.
Pintu kamar mandi terbuka, dilihatnya Arjuna sudah tertidur lagi. Segera di guncang-guncangkan tubuh Arjuna.
“Arjuna…!!!” jerit tertahan Rama
“Arjunaaaaaa…!!!” Kali ini Rama berkata dengan suara yang lebih kencang lagi.
Arjuna kaget dan bangun seketika.
“Apa-apaan sich…?!” Arjuna menggerutu sambil melihat heran pada Rama.
“Elo masih belom mandi juga…?!” tanya Arjuna.
Tapi Rama tak langsung menjawab.
“Ada apa lagi sich….???” Arjuna mulai sedikit kesel.
Dengan gemetar, Rama menceritakan kejadian yang baru dialaminya.
“Ah, gue tadi mandi, gak ada apa-apa…!” sahut Arjuna sambil melangkah ke arah kamar mandi.
“Tuch, gak ada apa-apa kan?” Arjuna pun membuka lebar-lebar pintu kamar mandi itu
“Gila lo ya…, Elo tuch masih bau…!” ketus Arjuna sambil memandang
jengkel pada Rama. Rama tak peduli dirinya diperhatikan. Ia justru sibuk
mengamati kembali keadaan di kamar mandi karena masih tak percaya
dengan apa yang dilihatnya.
“Udah sana mandi…!” Gua tunggu di depan pintu dech..!” perintah Arjuna.
Dengan penuh keraguan Rama melangkahkan kakinya, menapakkan kaki di
lantai kamar mandi yang dingin itu. Pintu kamar mandipun tak berani
ditutupnya rapat-rapat. Guyuran demi guyuran air terdengar sangat
terburu-buru. Akhirnya segalanya usai. Disambarnya handuk dan segera
Rama mengenakan pakaiannya, lalu berhambur menuju pintu.
Arjuna yang sedari tadi menunggu di luar kamar mandi menatap tajam ke arah Rama, dan bertanya,
“Ga ada apa-apa kan..?”
“Tapi sumpah, tiba-tiba tadi ada asap yang seperti sengaja
disemburkan ke wajah gue..!” raut wajah Rama nampak sangat ketakutan.
Sehingga Arjuna tidak melanjutkan pembicaraan tersebut.
Sementara itu, Panji yang tidak tahu apa yang terjadi ternyata telah
siap di ruang tamu, menanti kedua sahabatnya. Akhirnya, mereka bertiga
berangkat menuju kebun teh yang hijau dan menyegarkan. Perjalanan
menjelajah kebun teh benar-benar mereka nikmati. Menikmati indahnya
pemandangan sambil makan jagung manis bakar yang segar. Dan menikmati
aneka warung rakyat yang menyediakan aneka panganan asal daerah itu.
Beberapa saat berlalu, hingga tak terasa matahari telah bergeser
menjelang sore hari. Akhirnya ketiga sahabat itu memutuskan kembali ke
Vila Merah Bata. Setelah beristirahat sejenak di kamar, mereka kembali
berkumpul di ruang keluarga yang luas, menikmati malam terakhir di Vila
Merah Bata.
Menu pisang manis yang digoreng dengan taburan keju dan kopi hangat,
telah tersaji dan menjadi panganan yang cocok untuk dinikmati sore itu.
Barulah Arjuna menceritakan kepada Panji mengenai kejadian di kamar
mandi pada pagi harinya.
“Ah, elo cuma terlalu tegang, bisa jadi elo cuma berhalusinasi kan..!?” kata Panji sambil menepuk pundak Rama.
“Tapi ini bener, kepulan asap itu benar-benar disemburkan di wajah
gue..!” Rama menjelaskan dengan suara yang kembali terdengar gemetar.
“Tapi sejak kita sampai, kenapa cuma elo aja yang diganggu oleh asap-asap itu..?” Panji tetap tak percaya.
“Gue dan Arjuna engga kan..? senyum simpul Panji kali ini terlihat sangat menjengkelkan di mata Rama.
“Ah…sudahlah, ga usah dibahas…!” Rama pun merajuk. Mereka kembali menikmati hidangan yang tersaji.
Tak lama kemudian malam menjelang. Masing-masing kini telah memasuki
kamar tidurnya. Rama dan Arjuna tetap sekamar di kamar kedua yang berada
di lorong rumah itu. Sedangkan Panji tetap di kamar yang paling
belakang.
“Panji emang gila..!” Rama terdengar gusar
“Lho kenapa…?” tanya Arjuna dengan wajah bingung.
“Bukannya pindah ke kamar di depan lorong, tapi masih aja nekat di kamar yang paling belakang itu…!”
“Ihhh…sereeeemmm…!!!” lanjut Rama
“Ngaco loe…!” ketus Arjuna
“Keluarga gue tuch udah dari dulu menempati vila ini tapi ga ada
kejadian apa-apa, tau…! Jangan gossip ah…! Ayooo tidur…!” Arjuna kesel.
Rama diam saja.
“Kalo berisik, elo pindah sana ke kamar depan…!” Arjuna setengah ngeledek pada Rama
Tanpa panjang lebar lagi Rama dan Arjuna pun terlelap dalam mimpi.
Sementara Panji kali ini agak kesulitan memejamkan matanya. Hingga pukul
24.00 dirinya belum juga bisa tertidur. Setelah berjuang melelapkan
dirinya untuk bisa tertidur, akhirnya matanya mulai terasa berat. Makin
berat, dan akhirnya tertidur.
Panji berusaha menarik selimutnya. karena dirinya merasakan dingin
yang menggigit. Namun, selimut itu terasa tak kunjung berhasil
ditariknya. Hingga akhirnya Panji membuka matanya. Tubuhnya tiba-tiba
menjadi dingin dan kaku. Sulit digerakkan, serasa ada sesuatu beban yang
menindihnya. Matanya nanar menatap ke arah daun pintu kamarnya. Rasa
kantuknya kini telah lenyap, berganti dengan sebuah perasaan takut yang
luar biasa.
Di daun pintu itu, telah berdiri seseorang dengan mengenakan baju
putih dan sebuah sarung diselempangkan di pundaknya. Sebuah kopiah tua
bertengger di atas kepala orang itu. Ia menatap dengan tatapan yang
dingin dan amat menakutkan. Wajah lelaki itu amat pucat. Ia hanya
berdiri kaku tak bergerak, namun menatap dengan sorot mata yang amat
sulit dilupakan seumur hidup Panji.
Panji mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk memastikan bahwa
dirinya sedang tidak bermimpi. Perlahan kesadarannya makin pulih. Maka
Panji makin meronta-ronta. Namun dirinya tak sanggup melawan sebuah
energi yang sepertinya menindih tubuhnya. Mulutnya berusaha berteriak,
namun tiada suara yang bisa keluar dari kerongkongannya. Akhirnya, Panji
hanya sanggup memejamkan kedua bola matanya sambil memanjatkan doa pada
Tuhan.
Dengan sisa-sisa keberanian yang tertinggal, Panji berusaha membuka
matanya. Ia kembali mencoba melirik ke arah sudut daun pintu di mana
mahluk tadi berdiri kaku. Dilihatnya, mahluk itu bergerak perlahan
menuju arah pintu. Barulah disadari oleh Panji bahwa mahluk itu tak
berkaki. Keringat dingin makin membanjiri seluruh tubuh, kening dan
kedua telapaknya. Ketakutannya kini memuncak sudah. Panji kembali
meronta-ronta. Desah napasnya kian tak menentu. Namun tetap saja dirinya
tak mampu bergerak dan tiada suara yang sanggup keluar dari
kerongkongannya.
Sementara itu, di kamar lain, Arjuna dan Rama terbangun dan
kebingungan karena mendengar lenguhan-lenguhan suara yang mirip Panji.
Suara itu makin lama makin tak beraturan. Arjuna menatap arah jam
dinding di kamar. Arah jarum jam menunjukkan ke angka 4.30. Sudah
menjelang waktunya Subuh.
“Arjuna, elo dengar ga..?” tanya Rama penasaran dan sedikit takut.
“Iya, gue dengar..!” sahut Arjuna penasaran.
“Gue mau lihat.!” Arjuna segera berhambur ke luar kamar.
“Wooooii..!! Tunggu…!!!” Rama segera menyusul.
Setelah mereka berdua bertatapan satu sama lain, Arjuna dan Rama
mendorong pintu kamar Panji. Mereka melihat sahabatnya tengah
meronta-ronta tidak jelas penyebabnya. Mata Panji tetap tertutup, tapi
tubuhnya berkeringat sebesar biji kacang. Mulutnya seperti mengucapkan
sesuatu yang mirip seperti orang yang tengah mengerang. Tubuh Panji
segera diguncang-guncangkan oleh Arjuna, sambil berkata.
“Bangun…!!”
“Panji…Panji…Bangunnn…!!!” Teriak Arjuna.
Lalu tampaklah Panji mulai membuka matanya. Tubuhnya gemetar dasyat.
Matanya langsung mengarah ke arah daun pintu. Arjuna dan Rama mengikuti
arah mata Panji dengan penuh keheranan
“Ada apa..?” tanya Arjuna
“Elo liat ga, mahluk yang tadi berdiri di sana…?” tanya Panji panik
“Engga. Di sana gak ada apa-apa…!” hampir bersamaan Arjuna dan Rama menyahut.
“Mungkin tadi elo cuma mimpi buruk!” Arjuna berusaha menenangkan hati Panji
“Udah azan tuch…, yuuuk sholat…!” Ajak Arjuna lebih lanjut.
Seusai sholat, ketiga sahabat itu berkumpul di ruang keluarga. Panji
terlihat lebih diam daripada biasanya. Pikirannya melayang. Dirinya
masih bertanya-tanya, apakah benar kejadian yang baru dialaminya
hanyalah sekedar mimpi buruk semata. Sungguh masih ada rasa penasaran di
dalam hatinya. Namun tiada jawaban pasti yang bisa memuaskannya.
Dirinya kembali terdiam menatap langit-langit putih vila berbata merah.
Setelah ketiga sahabat ini menikamati sarapan pagi, mereka sepakat
untuk segera kembali saja ke kota. Mereka pun berkemas dan berpamitan
pada Mang Kuncung.
“Hati-hati di jalan ya Den..!” Demikian salam perpisahan lirih yang diucapkan Mang Kuncung.
Ketika mobil Arjuna telah jauh dari pandangan Mang Kuncung, ia segera
menutup pintu gerbang besi besar berwarna hitam itu. Dirinya berjalan
dengan tubuh bungkuknya menuju kamarnya, yang berada di bagian paling
belakang vila.
Sesampainya di kamar itu, segera saja Mang Kuncung membuka sebuah
lemari kecil. Dari dalam lemari kecil itu dikeluarkannya beberapa barang
yang amat janggal untuk dipakai oleh seseorang pada umumnya. Asap dupa
pun dinyalakan. Suasana makin mistis, setelah aroma dupa tercium dan
dari mulut Mang Kuncung terdengar bahasa yang aneh.
Mata Mang Kuncung pun terpejam. Suara-suara yang keluar dari mulut
Mang Kuncung makin keras dan membuat suasana mistis itu berubah menjadi
suasana yang mulai menakutkan.
Tiba-tiba, mata Mang Kuncung terbuka dan ada sesuatu yang berubah.
Sorot mata tua Mang Kuncung, kini berubah menjadi sorot mata sosok yang
sempat dilihat oleh Panji, yaitu sorot mata yang dingin dan menakutkan.
Ya…ternyata Mang Kuncung yang telah menua dan berjalan bungkuk itu
adalah seseorang yang sedang mempelajari sebuah ilmu hitam, dan vila ini
dirasakannya cocok sebagai tempatnya bersembunyi. Oleh karena itu
dirinya akan berusaha mengusir semua tamu yang hendak menginap. Karena
kini dirinyalah sang penguasa Vila Berbata Merah itu! Termasuk mengusir
Pemilik aslinya..!!!
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar