Music

Kamis, 01 November 2012

Pembunuh Ibuku

Siapa yang tak bersedih jika mempunyai seorang ibu yang meninggal dunia karena dibunuh dan pembunuhnya belum diketahui. Ya, ibuku meninggal dunia karena dibantai oleh orang tak dikenal. Ada lima tusukan yang mendarat di perutnya. Tak tega aku menyaksikan tubuhnya terkapar, bersimbah darah di dapur. Ibuku terbunuh saat aku berangkat kerja.
Aku anak lelaki semata wayang. Ayah telah tiada setahun yang lalu. Saat aku berangkat kerja, ibu di rumah seorang diri. Saat itulah ibuku dibunuh, sekitar jam sembilan pagi. Dugaan awal polisi adalah perampokan disertai pembunuhan. Ya memang, perhiasan ibu diambil semua, tak bersisa.
Aku hanya bisa meraung sekeras-kerasnya. Dendam ini begitu kuat seperti setan merasuk di dada. Ingin aku balas dengan membunuh orang yang membunuh ibuku, nanti jika telah tertangkap polisi. Nyawa harus dibayar dengan nyawa!
Ibu. Ya ibu, sosok yang telah mengandungku selama sembilan bulan. Melahirkanku. Menyusuiku, merawatku, menimangku, dan membesarkanku. Harus meninggal dunia dengan cara tragis. Kalau tahu nestapa ini akan menimpa ibuku, biar aku saja yang menggantikannya. Biar aku yang tercabik. Jangan ibuku. Jangan, jangan, jangan… Kasihan ibuku! Dan kini di depanku terbujur kaku jenazah ibu berbalut kain kafan.
Diiringi rintik hujan, seakan langit ikut menangis, jenazah ibu dikebumikan. Keluarga besar dari ibu dan dari ayah, serta para tetangga menghantarkan jenazah ibuku sampai ke pemakaman. Risdi berada di sampingku, menemaniku menghantarkan ibunda tercinta ke tempat peristirahatan terakhirnya.
***
“Ibuuuuuuuuuuuuuu…!!! Ibuuuuuuuuuuuuuu…!!! Ibuuuuuuuuuuuuuu…!!!” aku berteriak di tepi pantai. Ya sejak ibuku telah tiada, aku menjadi suka menyendiri di tepi pantai. Memanggil nama perempuan yang paling aku sayangi dan cintai di dunia ini. Ya, aku memang belum menikah, dan aku ingin mencari sosok istri yang seperti ibu.
“Sudahlah, Gus. Yang lalu biarlah berlalu. Lebih baik kamu mendoakan ibumu dalam sholatmu, biar beliau tenang di alam kubur…” tiba-tiba suara Risdi sahabatku sudah di dekat telingaku. Ternyata tanpa sepengetahuanku, Risdi mengikutiku menuju ke pantai.
“Coba kalau kamu yang jadi diriku, kamu yang ada diposisiku!” teriakku sambil memegang kerah bajunya. Ia hanya tersenyum dan menahan nafas. Risdi memang telah paham benar karakterku.
Risdi adalah sahabat terbaikku, teman sekolah dari SD sampai bekerja. Rumahnya dekat dengan rumahku. Kami sudah seperti kakak beradik, meskipun umurnya tua aku sebulan, tapi Risdi nampak lebih temua dan ngemong.
Risdi sahabat yang selalu ada tatkala aku dalam suka maupun duka. Jika aku ada masalah, pasti Risdi membantu, meski hanya sekedar saran, namun sangat membantu menyurutkan emosiku. Seperti rembulan yang menjauh dari bibir pantai dan membuat air laut surut.
Risdi berasal dari keluarga yang pas-pasan. Bapaknya, Pak Sahlan seorang penjahit, sementara ibunya, Bu Darsah merupakan ibu rumah tangga biasa.
Risdi mempunya tiga orang adik yang masih sekolah semua. Sementara usai lulus kuliah, Risdi masih berpindah-pindah kerja. Belum mapan. Namun perpindahan kerjanya masih dalam satu kota.
***
Waktu terus berlalu. Duka hatiku belum lagi surut, seperti musim kemarau yang datang tak berganti sepanjang tahun. Seperti tak pernah datang lagi musim hujan. Gersang dan tandus. Hanya kabut hati yang terus mendung dan hitam kelam.
Selain ke pantai, aku kerap mengunjungi makam ibu yang bersebelahan dengan makam ayah. Menaburi bunga-bunga di atas pusara. Dan memanjatkan doa-doa.
Niatku untuk menikah dalam waktu dekat, aku tunda. Aku merasa belum siap atas kepergian ibu. Tanpa ibu segalanya menjadi nampak gelap. Namun lagi-lagi Risdi mampu menjadi pelipur laraku. Menyejukkan hatiku. Meski dalam hati dendam terhadap pembunuh ibuku masih ada.
“Akan aku bunuh siapapun orangnya yang membunuh ibuku. Aku harus membuat pelajaran bagi siapapun yang telah merampas kebahagiaanku. Kebahagiaan ibu adalah kebahagiaanku. Duka ibu adalah dukaku. Sakit ibu adalah sakitku. Perih ibu adalah perihku!” teriakku di depan Risdi di tepi pantai. Debur ombak yang membentur batu karang mengiringiku bersumpah serapah.
“Jangan seperti itu, Bagus. Tidak baik kamu mendendam pada orang lain termasuk pada pembunuh ibumu sekalipun. Maafkanlah dia, doakan saja dia agar tobat. Kamu akan tenang, hidupmu akan tenteram,” ucap Risdi dengan nada suara lembut dan menyejukkan. Seperi es yang ditempelkan pada kulit yang panas.
“Apa katamu? Enak saja kamu bicara seperti itu. Aku yang mengalaminya sendiri, mempunyai ibu yang terbunuh, sehingga bisa merasakan sakit yang di alami ibuku!” teriakku sambil memegang kerah bajunya dan biji mata yang ingin ku keluarkan dari tempatnya. Risdi cuma tersenyum, mencoba mendinginkan suasana.
***
Seperti mendengar petir di siang hari. Aku menyaksikan sendiri, Bu Darsah digelandang polisi dengan tangan terborgol. Dengan barang bukti sebilah pisau yang berlumuran darah dan perhiasan emas. Seorang ibu yang telah melahirkan Risdi, digelandang polisi.
Aku tercekat. Tubuhku bergetar. Jantungku berdegup kencang. Daraku seakan berhenti mengalir. Keinginan untuk balas dendam berpenturan dengan rasa simpati pada sahabat karibku Risdi. Ibuku telah meninggal dunia karena dibunuh. Dan yang membunuh adalah Bu Darsah, ibunda dari sahabatku, Risdi. Sementara Bu Darsah ditangkap polisi karena membunuh ibuku. Tak mungkin, ini pasti lelucon dalam mimpi. Aku menggigit jariku sendiri. Sakit. Aku tidak bermimpi. Ini nyata! Aku histeris, seperti ada badai yang berkecamuk dalam dadaku.
“Sekarang kamu telah tahu siapa pembunuh ibumu. Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Risdi sambil menepuk pundakku. Aku hanya bisa tertunduk. Kami berdua sesunggukkan. Larut dalam lamunan masing-masing. Akan kisah tragis ibu kami masing-masing.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar